31 July 2012

Overthinking makes everything seems harder.

Oh nooooo, sang pacar is going to leave me soon T____T Remember this post? Well it's actually about me and him T_______T Remember this post? Well kaga napa-napa cuma nanya aja masih inget apa kaga. NYEHEHEHE resek ya gue.

Anywae wuhuhuhuhu :"""( sedih maksimal, jadilah sang pacar berencana pergi ke Sydney buat internship kurang lebih selama 2 bulan. Gue sempet kesel banget sih... bukan sama dia, tapi sama.. ya keadaan. Lucu aja gitu ya, gantian gue di Aussie land, dia disini, gantian gue udah disini, dia ke Aussie land. What kind of destiny is this?

Memang sih perginya cuma 2 bulan, tapi kan tetep aja kangen... :3

Haha enexx abis, ga biasanya gue lemah begini cuih. Oke lah dudubay dulu, cuma mau tetep eksis dengan mengabarkan kesedihan di hati gue ini.

Ps: Visa sang pacar udah keluar, akan dia ambil sore ini untuk liat apa diterima atau ditolak. Pasti diterima sih. Ngok dhus pret jek ejek ejek.

Terbukti lelaki mesum dan jahat.



29 July 2012

Semacam lelaki bergigi dan berhati karang.

Percakapan dengan sang pacar pas dinner kemaren malem:

C: Jadi si Pak guru X dulu cerita dia pernah putus sama Bu guru Z pas masih muda. Abis putus terus dia naek bus pulang dari rumahnya Bu guru Z, pas itu si Z udah nangis-nangis. Eh terus di bus dia berubah pikiran and turun terus balik lagi ke rumah si Z, akhirnya balikan deh terus ga lama married. Si X pernah cerita ga ke kamu?
F: Ngga tuh.
C: Dulu dia cerita di kelas aku. Gila ya kalo dipikir-pikir.. Andai aja kalo saat itu si X ga buang gengsi dia terus turun dari bus dan puter arah balik ke rumah si Z buat baikan mungkin mereka ga married sekarang.
F: Yah ngga lah. Kalo baikannya besokannya?
C: Iya si tapi kan si X namanya membuang kesempatan. Ah kamu mah merusak keromantisan.
F: *Ketawa* Ini namanya logika probabilitas.

Dasar kaga bibir kaga kulit kaga hati, semua sama-sama gelap.

26 July 2012

Ahhh, deeply in love with you.

My new book :))))) H a p p y !

Twilight Saga journal box set :'''')

Cinta!

23 July 2012

Exactly a smart thinker Jakartan.

Pandangan Saya sebagai Orang Islam terhadap Ahok

Kamis kemarin, 19 Juli 2012, KPUD Jakarta mengumumkan hasil Pemilukada tanggal 11 Juli 2012 yang lalu. Hasilnya sebagai berikut: Jokowi – Ahok 42,6 % Foke – Nara 34,05 % Hidayat – Didik 11,7 % Faisal – Biem 4,9 % Alex – Nono 4,67 % Herdardji – Riza 1,97 %

Tampilnya pasangan Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama atau Jokowi – Ahok sebagai peraih suara paling tinggi cukup mengejutkan bagi saya, karena survei-survei yang dilakukan sebelum hari pemilihan hanya menempatkan pasangan kotak-kotak itu pada posisi kedua.

Padahal, Calon Wakil Gubernur yang diusung PDI Perjuangan dan Gerinda itu beragama Kristen Protestan. Hasil ini menunjukkan, agama Calon Gubernur dan Wakil Gubernur tidak terlalu menjadi persoalan bagi warga Jakarta yang mayoritas Muslim. Mereka sama sekali tak menghiraukan fatwa atau pendapat yang mengharamkan memilih Non-Muslim sebagai pemimpin.

Memang sudah seharusnya pemilih Jakarta menunjukkan kelasnya sebagai warga Ibukota yang cerdas, rasional dan tidak emosional, yang menyadari isu agama itu dimunculkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, untuk kepentingan politik sesaat.

Isu agama bukan kali pertama terjadi di dunia perpolitikan di Indonesia. Pemilihan Presiden tahun 1999, 2004 dan 2009 selalu diwarnai isu agama. Tahun 1999 sekelompok ulama dan tokoh Islam mengeluarkan fatwa haramnya perempuan menjadi presiden. Fatwa itu sengaja dimunculkan untuk menghadang Megawati Soekarno Putri, karena ada kekhawatiran terhadap orang-orang di belakang Megawati yang rata-rata abangan dan bahkan Non-Muslim.

Pada Pilpres 2004 isu agama kembali dihembuskan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Istri Calon Presiden SBY dituduh beragama Kristen karena namanya Kristiani Herrawati. Demikian juga pada Pilpres 2009 istri Calon Wakil Presiden Boediono dituduh beragama Kristen. Akibat tuduhan itu, beberapa kali Bu Herawati mengenakan jilbab untuk menunjukkan di depan publik bahwa tuduhan itu tidak benar.

Ternyata semua isu agama itu tidak terbukti. Kekhawatiran adanya kristenisasi dan pembangunan gereja besar-besaran pada pemerintahan Megawati, ketika Bu Ani Yudhoyono menjadi ibu Negara dan pada saat Bu Herawati Boediono menjadi Ibu Wakil Presiden, semua itu tidak terbukti. Rakyat akhirnya paham bahwa isu agama hanyalah dijadikan mainan politik semata.

Memilih Pemimpin yang Sejati Menurut saya, memilih pemimpin harus didasarkan kepada kemampuan Calon, bukan apa agama Calon. Sebab, soal agama adalah urusan pribadi antara seorang hamba dengan Tuhannya. Apakah Calon rajin sembahyang atau tidak, tekun puasa Ramadhan atau tidak, dan selalu membayar zakat atau tidak, itu semua bukan urusan rakyat untuk mengetahuinya.

Yang perlu dipertimbangkan saat memilih pemimpin adalah sejauhmana kemampuan pemimpin untuk menghadirkan sebesar-besar kemakmuran rakyat. Karena itu, yang harus dipilih adalah pemimpin yang adil sehingga kepemimpinannya membawa kemaslahatan (kemanfaatan) bagi rakyat yang dipimpinnya. Dalam Kitab Al-Hisbah karangan Ibnu Taimiyah dinyatakan sebagai berikut: الله ينصر الدولة العادلة وإن كانت كافرة، ولا ينصر الدولة الظالمة وإن كانت مؤمنة

Artinya: “Allah akan menolong Negara yang adil meskipun Negara itu Kafir. Dan Allah tidak akan menolong Negara yang dholim meskipun Negara itu Mukmin (Islam).” Kita bisa melihat Australia, Jepang, Korea, Negara-negara Eropa dan Amerika yang penduduknya bukan mayoritas Muslim (baca: Kafir), tapi ternyata lebih maju dan sejahtera dibandingkan dengan Negara-negara Islam seperti Mesir, Yaman, Aljazair, Oman, Libya dan Tunis, tidak lain karena Negara-negara Kafir itu menjunjung tinggi keadilan. Maka Allah menolong mereka karena keadilan yang mereka tegakkan.

Seorang tokoh pembaharu asal Mesir, Mohammad Abduh mengatakan “Saya melihat Islam di Barat tapi saya tidak temukan Kaum Muslim di sana. Sebaliknya, saya menemukan Kaum Muslim di Timur tapi saya tidak melihat ada Islam di sana.” Maksudnya, Orang-orang Barat tidak mengenal agama Islam, namun perilakunya mencerminkan ajaran Islam. Mereka menjunjung tinggi keadilan, giat bekerja, disiplin, memudahkan urusan orang lain, menjaga kebersihan dan ketertiban umum serta menghargai waktu.

Nah, inilah pentingnya memilih pemimpin yang diyakini mampu menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Soal apa agama pemimpin tersebut, itu bukan faktor penting Sebab, bisajadi ada pemimpin yang di KTP tertulis agama Islam, tapi perilakunya justru Kafir, tidak mencerminkan nilai-nilai Islam. Keislaman seorang pemimpin bukan dilihat dari peci dan baju koko-nya, melainkan dari perilakunya. Pemimpin yang mengaku Islam sebagai agamanya, tidak berani berbuat korupsi, tidak menggunakan fasilitas Negara untuk kepentingan pribadi, dan tidak berbuat dholim kepada rakyatnya.

Sebaliknya, tidak mustahil ada pemimpin yang di KTP tertulis Kristen tapi perilakunya malah sangat Islami. Ia curahkan segala pikiran dan tenaganya untuk kesejahteraan rakyat, sehingga rakyat bisa memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya, baik jasmani maupun rohani. Ia kerahkan jiwa dan raganya untuk kemaslahatan (kemanfaatan) rakyat, sehingga rakyat tidak menemui kesulitan untuk memperoleh pangan, sandang dan papan, bahkan untuk melakukan peribadatan kepada Allah SWT. Pemimpin seperti itu sesuai dengan Kaidah Fiqh: تصرف الإمام على الرعية منوط بالمصلحة

Artinya: “Kebijakan pemimpin terhadap rakyatnya harus mengacu pada kemaslahatan (kebaikan) rakyat”.

Kajian Dalil Larangan Memilih Pemimpin Kafir Memang dalam kitab Suci Al-Quran ada beberapa ayat yang melarang umat Islam untuk memilih pemimpin yang tidak beragama Islam. Di antaranya ayat-ayat yang terjemahannya berikut ini: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin-pemimpinmu (Al-Maidah : 51)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang Kafir sebagai pemimpin-pemimpinmu dengan meninggalkan orang-orang Mukmin / Muslim (An-Nisa : 144) Menurut saya, ayat-ayat di atas benar adanya. Hanya saja, pertanyaannya adalah orang Kafir seperti apa yang tidak boleh dijadikan sebagai pemimpin. Di sinilah perlunya melakukan apa yang dalam Logika Hukum disebut Rechtsvervijning(Pengkonkritan atau Penghalusan Hukum) yang merupakan salah satu metode dalam Konstruksi Hukum.

Kita tidak boleh memahami ayat secara apa adanya atau tekstual, tapi harus melakukan kontekstualisasi. Kenapa orang Kafir tidak boleh dijadikan pemimpin? Bagaimana kondisi dan situasi pada saat ayat itu diturunkan? Apakah keadaan sekarang masuk dalam kriteria tidak dibolehkannya mengangkat pemimpin Kafir seperti pada masa Rasulullah SAW. masih hidup dulu?

Saya berpendapat bahwa orang-orang Islam tidak boleh memilih pemimpin Kafir dengan catatan pemimpin tersebut membawa dampak negatif bagi agama dan umat Islam. Selama pemimpin Kafir tersebut diyakini mendatangkan keburukan atau kemudharatan bagi agama dan umat Islam, maka hukum memilihnya tidak boleh. Sebaliknya, bila keyakinan itu tidak ada maka hukumnya boleh.

Lagi pula, untuk ukuran jaman sekarang di era demokrasi, pemimpin tidak bisa tampil secara sewenang-wenang dan sesuka hatinya. Ia tidak bisa menjadi satu-satunya pengambil kebijakan. Setiap kebijakan yang diputuskan harus melalui musyawarah dengan banyak pihak dan dalam pelaksanaannya dikontrol oleh rakyat, baik melalui wakil-wakilnya di Dewan Perwakilan Rakyat, media dan LSM. Adanya mekanisme kontrol inilah yang membedakan pemerintahan sekarang dengan jaman dulu.

Pemimpin sekarang tidak akan berani berbuat semena-mena, kecuali ia akan menjadi bulan-bulanan media dan didemonstrasi oleh rakyat. Karena itu, kekhawatiran dengan adanya pemimpin Kafir tidak mempunyai dasar.

Sosok Ahok yang Islami Ada seorang ulama di Belitung Timur, kampung halaman Ahok, yang mengatakan, “Pada diri Ahok ditemukan sifat-sifat kenabian, yaitu Shidiq (jujur), Amanah (dapat dipercaya), Tabligh (mampu berkomunikasi) dan Fathonah (cerdas).”

Saya sependapat dengan ulama tersebut. Berdasarkan rekam jejak yang dipublikasikan, selama memimpin Belitung Timur, Ahok terkenal sebagai sosok pemimpin yang profesional, jujur, bersih, transparan dan merakyat. Sifat-sifat itu sesuai dengan ajaran Islam.

Ahok tak menjaga jarak antara dirinya dengan rakyat. Ia biasa keliling kampung untuk mengetahui persoalan rakyatnya. Perilaku Ahok itu seperti yang dilakukan Khalifah Umar bin Khattab yang suka keliling kampung. Dengan keliling kampung, Khalifah Umar pernah dikisahkan menemukan suara tangis pada malam hari. Ternyata ada anak-anak kecil yang menangis tiada henti karena tidak makan berhari-hari. Karena merasa bersalah, Khalifah Umar spontan mengambil sendiri makanan yang ada di gudang Negara, memikulnya sendiri dan mengantarkan ke keluarga tadi. Itulah perlunya pemimpin turun ke bawah (turba) sehingga tahu persis keadaan rakyat yang dipimpinnya, dan tidak melulu mengandalkan laporan dari staf-stafnya.

Ahok juga tidak pernah memanfaatkan fasilitas publik untuk kepentingan pribadi. Justru yang terjadi, Ahok memotong uang perjalanan dinasnya untuk membantu rakyatnya yang miskin. Perilaku Ahok ini mengingatkan saya kepada cerita Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Suatu ketika putranya datang menghadap ke Istana, lalu Khalifah Umar bertanya, “Untuk urusan apa, Kamu datang, Nak?” Sang putra menjawab, “Untuk urusan pribadi.”

Seketika Khalifah Umar mematikan lampu ruangan. Sang putra bertanya lagi, “Kenapa dimatikan, Ayahanda?”

“Karena lampu ini dibiayai oleh Negara. Tidak boleh menggunakan fasilitas Negara untuk kepentingan pribadi.” Subhanallah.

Perilaku Ahok itu jarang ditemukan pada pemimpin-pemimpin saat ini. Tidak sedikit Gubernur dan Bupati/Walikota yang mendekam di penjara karena terlibat kasus korupsi penggunaan APBD. Tapi tidak termasuk Ahok. Ia sadar bahwa APBD adalah uang rakyat yang harus dipergunakan untuk kepentingan rakyat. Maka, uang itu haram dimanfaatkan untuk urusan pribadi, seperti untuk memperkaya diri sendiri atau untuk mendanai kampanye pemenangan dalam Pemilukada.

Ketika pemilukada Belitung Timur 2005, ada kekhawatiran bahwa jika terpilih, Ahok akan melakukan kristenisasi atau membangun gereja besar-besaran, ternyata kekhawatiran itu tidak terbukti. Selama memimpin Belitung Timur, Ahok lebih menjunjung tinggi ayat-ayat Konstitusi. Lagi pula, kalau kelak benar-benar terpilih pada Pemilukada Jakarta putaran kedua tanggal 20 September 2012, sosok Jokowi tidak akan mungkin membiarkan wakilnya, Ahok sibuk memprioritaskan urusan agamanya ketimbang urusan rakyat keseluruhan. Ahok bukan pasangan pertama Jokowi. Sebelumnya, Jokowi sudah pernah berpasangan dengan Wakil yang beragama Kristen. Selama dua periode kepemimpinannya di Solo, Jokowi didampingi Wakil yang juga beragama Kristen. Namanya FX Hadi Rudyatmo. Dan, selama ini tidak pernah terjadi apa-apa.

Lalu, apa yang dikhawatirkan dari Ahok?

Sumber.

22 July 2012

Seem to keep forgetting this.

Silence is gold.
Anger is a choice.
Relationship is a gift.
Sorry is a reminder.

Changes are never too late.

20 July 2012

One step at a time.

Berdebar. 

Tanpa melebih-lebihkan. Setiap kali ngeliat hasil karya orang lain yang begitu kreatif dan wah, jantung gue berdegup kagum. Pikiran-pikiran yang sama pun terulang-ulang di kepala, "Ya ampun gue juga mau bisa bikin kayak gitu," "Ya ampun kapan gue punya kesempatan belajar kayak dia," "Ya ampun gue mau dong bisa bikin ini ono ini ono, tapi gimana caranya." Dan lain, lain.

Meski di Indonesia hal-hal yang gue sukai masih minim sarana dan prasarananya dan tidak ramai orang yang membicarakannya, tapi gue yakin bukan berarti ini tidak menarik. Bukan berarti ini tidak berprospek. Bukan berarti ini akan menghambat gue untuk bisa menjadi seperti mereka.

Dengan memulai pelan-pelan disini, dan dari sekarang. 

I believe kalo di jaman modern ini, hal-hal yang tradisional justru mulai mencuat lagi ke permukaan dan memberikan nilai keindahan lebih dari hal-hal yang diciptakan secara instan. Hal-hal yang dianggap kuno oleh sebagian besar orang, adalah sebenarnya seni yang tidak akan pernah mati dimakan usia.

And truly madly deeply, I wanna be a part of this art.

18 July 2012

Recent keywords activity (7).



Yoehoeee~ Udah lamaaaa abis ya gue kaga ngepost recent keywords activity gue (bisa click on the 'keywords activity' label below untuk ngeliat postan sebelumnya.

Bahasa tarakan?! Hahaha gara-gara suka ngomongin si Shinta ni, orang-orang Tarakan pada nyasar semua kesini.

Sumpah nangis melihat 'kapan jakarta bisa kayak kuala lumpur' ngoaaaaa T___T

Foto bersama cat catylac pun ada yang nyari ya. Dan lebih parahnya ada juga orang yang mau foto ama catylac apalagi handuknya; yakni gue lah orang itu. Menyedihkan kamu Cicilia.

'Cewek cantik tetek besar'?! Menyedihkan sekali anak Indonesia jaman sekarang. Menyedihkan karena ngetik tete kok pake k belakangnya. Khekekek.

Annoying fact.


Apa penyebab ke-absurd-an seperti ini?

Ok udah lama ya gue ga ngepost cerita tentang mimpi gue. Label the journal of dream pun terabaikan sudah. Anyway hari ini gue mimpi semimpi-mimpinya sampe alarm bunyi gue kaga denger, dan... *maap* aga ngiler coba ya. TIDAAKKKKKKKK. Kenapa gue tulis juga disini coba ._.

Oke intinyaaaaaa mimpi gue hari ini kebagi jadi dua bagian:

1. Ada cowo disamping gue (lupa siapa, kayaknya om gue) yang tiba-tiba dibilangin sama tante-tante gue, "Eh kok kayaknya otak lu keluar sih?" Tapi ga digubris sama dia. Beberapa lama kemudian dibilangin lagi, "Eh beneran otak lu keluar loh.." Nah ga lama dia pun panik dan beberapa detik kemudian meninggal. Lalu ga lama kemudian gue (yang menyaksikan semua itu) menggaruk kepala gue sampe kedengeran bunyi GREK. Tapi karena ga sakit ga apa gue santai aja, eh ga beberapa lama kemudian gue juga dibilangin ie-ie gue kalo otak gue keliatan dari luar dan kayak mau keluar! Omgggg langsung lari ke RS lah gue dan disana dijait sembari disuruh rawat inap. Bahkan sampe dalam mimpi pun gue kebingungan mau ijin gimana lagi ke kantor... :s

2. Nah ini yang super panjang. Gue singkat aja ya. Intinya gue sama Shinta (housemate di Ausi dulu) suka banget makan di satu restoran pork. Saking sukanya kita berdua nabung mau beli rumah di deket resto itu. Pas duitnya udah ada dan kita kesana ternyata lagi ada perang antara dua kubu tentara yang belakangan diketahui tentara dari US dan tentara dari Indo. Mereka lagi tembak-tembakan dan bakar-bakarin resto itu (karena resto itu jadi tempat peperangannya). Nah penyebab berantemnya karena saham jatoh kenapa gitu, terus gue ngeliat ada artikel di koran yang ngomongin Dahlan Iskan hampir terseret jatuhnya saham bla bla bla.

Nah ga lama tentara Indo datengin gue dan gue diwawancara takut dikira mata-mata. Meski gue udah berusaha menjelaskan kalo gue ini cuma pengunjung, buntut-buntutnya gue mau dibunuh juga. Kaburlah gue dan Shinta. Abis keluar dari sana kita masuk ke taman yang gede banget, gue sembunyi-sembunyi dibalik pohon sembari nyari-nyari dimana si Shinta. Ngga lama kemudian gue ngeliat kepala rusa yang kepenggal tergeletak di atas rumput. Damn!!! Entah gimana pokoknya gue yakin itu si Shinta yang udah diubah jadi rusa dan dipenggal. Makin takutlah gue!

Nah ini bagian paling absurd. Pas lagi sembunyi-sembunyi, gue melihat dikejauhan ada pernikahan (semacam garden party) yang lagi berlangsung. Tebak nikahan siapa? Benar sekali.... Edward Cullen dan Bella Swan.

Horor lah gue!! Gimana kalo kecium ada bau darah manusia dan gue digigit sama mereka?? Tapi karena takut ketangkep dan dibunuh sama tentara Indo akhirnya gue bisik-bisik tetangga panggil si Carlisle sama Esme. Terus gue jelasin ke mereka dan mereka setuju bantu gue kabur. Akhirnya gue dibawa terbang-terbang gitu ke satu pulau terpencil yang ada guanya. Entah gimana tiba-tiba emak gue juga udah ada disana, jadilah gue sembunyi berdua sama dia.

Tidak sampai disini, tiba-tiba pas lagi berduaan sama emak di dalam gua, terdengar suara ie-ie gue. Jreng, ternyata dia udah lama tinggal di gua itu bersama dua anak kecil (anak dia) tanpa pengetahuan suaminya. Jadi kaga tau itu anak siapa. Jrengggg, dan mimpi gue pun berakhir disana karena gue udah kesiangan 20 menit dan nyokap masuk ke kamar ngomel-ngomel bangunin gue.

Hahahaha what a dream, fiuh.

17 July 2012

Beruntung ternyata (sebagian besar) rakyat Jakarta masih menggunakan akal sehatnya.

TEMPO.CO, Jakarta - Dibandingkan pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama (Jokowi-Ahok), dana kampanye Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara) mencapai tujuh kali lipat lebih. Pasangan Foke-Nara ini disokong dana kampanye sekitar Rp 70 miliar, sedangkan pasangan Jokowi-Ahok hanya sekitar Rp 9 miliar.

Dengan dana kampanye Rp 70 miliar, Fauzi memang bisa melakukan apa saja. Iklannya ada di semua televisi, radio, spanduk, dan baliho. Sebagai incumbent, dia juga leluasa berkampanye mengatasnamakan Gubernur Jakarta. Dukungan tokoh juga tak kurang. Ryaas Rasyid, Wiranto, dan Sutiyoso berada di belakangnya.

Namun dana kampanye yang besar tak menjamin pasangan Foke-Nara ini unggul. Pada babak pertama, Jokowi unggul 1-0. Perolehan suara pasangan Fauzi Bowo Nachrowi Ramli, versi hitung cepat sejumlah lembaga survei, di bawah pasangan Jokowi-Ahok, yaitu sekitar 33 persen. Sedangkan pasangan Jokowi-Ahok meraup dukungan terbanyak, yaitu 42,6 persen.

Selebihnya, soal pembiayaan kampanye, pasangan Jokowi-Ahok dibantu Hashim Djojohadikusumo, adik Ketua Partai Dewan Pembina Partai Geridra, Prabowo Subianto. Bersama Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Gerindra mengusung pasangan Jokowi-Ahok dalam Pilkada DKI ini.

Namun Hashim bergerak sendiri. Ia membiayai survei-survei serta iklan luar ruang dan media elektronik yang memakan ongkos banyak. Pada iklan-iklan itu selalu disisipkan pernyataan penutup dari kakaknya, Prabowo Subianto, yang berhasrat jadi presiden dalam pemilihan 2014. "Pergerakan tim Pak Hashim sama sekali tak saya ketahui,” kata Boy Sadikin, ketua tim sukses Jokowi-Ahok.

Belakangan, keunggulan Jokowi-Ahok ini dipersoalkan pasangan Foke-Nara. Melalui tim advokasinya, pasangan nomor urut satu itu menuding ada praktek politik uang yang telah dilakukan secara masif oleh pendukung pasangan Jo­kowi-Ahok pada putaran pertama lalu.

Sekretaris tim advokasi Foke-Nara, Dasril Affandi, mengungkapkan bahwa praktek money politic yang dilakukan telah terjadi di sejumlah wilayah. Dari sisi waktu, pembagian uang juga bukan hanya dilakukan pada masa kampanye, me­lain­kan juga saat hari pencob­losan. ”Jumlahnya bervariasi, dari Rp 50 ribu hingga Rp 500 ribu,” kata Dasril, pekan lalu.

Jokowi enteng menanggapi tudingan ini. "Jangan dibalik-baliklah," kata pria yang masih menjabat Wali Kota Solo ini. Jokowi mengatakan masyarakat tahu bahwa saat berkampanye pasangannya tidak memiliki dana yang cukup.

Sumber.
------------------------------------------------------------

Maling teriak maling eh?

And the winter breeze.


16 July 2012

Sekedar update-an semata.

Susu halu! Udah lama banget ga ngeblog yampun, I have no idea where have I been <- tapi bukan semacam hilang ingatan. Rasanya kok bisa-bisanya selama beberapa hari ini gue kaga ngelakuin sama sekali ya.. Ckckck ga sehat banget... (oi oi sadar ini cuma ngeblog oi bukan buang aer oi).

Anyway ada berita sedih yang baru gue denger weekend kemaren :'( Sho sho shooo sad, tapi belum mau gue publish disini sampe ada kepastian. NYEHEHEHE paling benci kan kalo udah dikasih hint tapi kaga dikasih tau apa inti ceritanya. Iya benci kan, benci kan. Pasti kalian lagi penasaran kan, ya kan *mulai annoying*.

Okelah daripada dilempar telor asin, inti dari berita sedih itu adalah................ hubungan LD. Antara oknum X dan oknum Z.

Sekian.

Every single time.



11 July 2012

Finally. Now we can EXPECT.



Laporan traffic pagi ini.

Gila gila gilaaaaaa, gue harus ngeblog soal ini. Jadi dikarenakan pilkada DKI, orang-orang berKTP DKI pada libur (di kantor gue mereka disuruh masuk setengah hari mulai siang nanti, tega ya..) Nah jadilah hari ini:

1. Jalanan kosoooonggggggg melompooooonggggggg, gue dari rumah ke kantor (kurang lebih 27,5 km) cuma 35 menit! 35 menit guys!! *Terharu maksimal* Sampe susah banget nahan diri buat ga nepi, turun dari mobil, terus foto-foto telanjang di tengah jalanan kosong tadi. Hampir juga gue turunin kaca terus tereak, "Tuhan Yesus!! Look at this!! Kamsia ni!"

2. Anyway kemaren pagi gue berantem ama emak di mobil untuk kesekiannnnn kalinya gara-gara masalah emosyong gue kalo nyetir. Well di jalanan gue super galak si memang. Suka adu klakson, adu pepet, adu salip-salipan tapi CUMA ke orang-orang yang senga duluan. Jadilah emak marah dan gue berjanji ga bakalan klakson dan nge-dim nge-dim-in orang berkali-kali lagi unless it is really necessary to. Tadi, sialnya, ada satu motor nyenggol mobil gue di lampu merah. Actually I have a lot of time buat turunin kaca dan maki-maki dia, but I didn't do that karena mau mengontrol emosi. Instead gue klaksonin dia panjang 10 detik kaga berenti. Hahahaha yeaaa, itu lah cara lembut gue beremosi oke, cara kasarnya udah gue maki-maki tuh pasti. Dia pun cuma diem aja. Damn you.

3. Pas mau masuk Pulo Gadung, gue sampe lupa belokannya yang mana dan hampir aja kelewatan gara-gara ga ada satupun mobil yang ngantri buat belok! OH GODDDDD, langsung orgasm di mobil gue rasanya. Hahahaha maap lancang, tapi gue super happy kaga boong.

4. Masuk kantor BOOM masi kosong melompong (gue nyampe 7:50 AM) cuma ada sebijik orang. AC pun masi terasa super dingin dan menohok jiwa raga. Ngooaaaaaa~~~ *Langsung nari balet 10 putaran di depan pintu boss*

Ah... Nikmatnya hidup kalau begini. Ini membuktikan seberapa besar peranan traffic di Jakarta dalam membentuk pribadi gue yang emosional, hahaha. Ok la dudubay mau ngutek dulu :p

Happy Wednesday!

Ps: Buat yang nyoblos.. ingattt, coblosssss yang nomor.3! :D :D :D

10 July 2012

Saya pak! Saya!

"Jakarta ini hanya bisa diatasi oleh orang-orang yang keluar dari pakem. Beri saya 10 pemuda yang baik, akan saya guncang Jakarta," - Jokowi Widodo.

Saya dukung no.3! Kamu?


Harap-harap cemashhh nih soal pemilihan gubernur dan wakilnya besok (11 Juli 2012) :/ :\

Apa kabar dunia kalo Jokowi-Ahok kalah? Hancurlah nasib Jakartans at least sampe 5 tahun lagi. Si kumis Foke itu juga kuat banget lagi pendukungnya. Well well well, kalau kata di Twitter sih, I don't hate him. But if he was on fire while I was holding a bottle of water, I'd rather drink every drop of it. Hahaha.

Kemaren-kemaren ada supir cerita (gue lupa baca berita ini dimana, palingan Twitter) kalau salah satu cagub bagi-bagiin Rp 100,000-150,000 buat yang mau ikutan kampanye dan milih dia. Zzz, seperti kata Ahok, kan bodoh kalo nasib 5 tahun dituker sama duit Rp 150,000.

Entah kenapa ya gue percaya banget sama pasangan Jokowi-Ahok. Meski bener kalo mereka kepilih akan banyak hal yang dipersulit (kayak ga bisa maenin pajak lagi lah, pembangunan mall pasti direduce lah, dan lain-lain yang mungkin banyak merugikan warga TiongHoa di Jakarta) tapi liat jangka panjangnya dong. Pasar-pasar tradisional kaga bakalan jelek kayak sekarang (seneng juga kan tuh ibu-ibu jangan-jangan bisa hang out melulu di pasar). Pungli dihapuskan. Yang paling penting transportasi dibenerin. Hip hip hurray untuk para pengemudi di Jakarta! \(^o^)/

Kalo kita salah pilih lagi, Jakarta ga akan mengalami perubahan signifikan. So sampe kapan Jakarta mau kayak begini? Transportasi masih ketinggalan jauh; I can't help comparing Jakarta with Kuala Lumpur, every single time. And I'm deeply ashamed of our country, our city, our home. Malu banget gue. Hampir ga ada yang bisa kita banggain dari sistem di Indonesia. Buat passport bleh, buat SIM or KTP bleh, sistem transportasi bleh. Apa? Apa yang bagus dari Indonesia, atau ga usah jauh-jauh, Jakarta?

Si Foke 5 tahun mimpin koridor busway cuma nambah 1. Banjir tetep, macet tetep, boro-boro sekolah dan pengobatan gratis. Kumis aja tuh dipiara tiap hari. Cagub-cagub lain sih gue kurang tau ya cuma tetep dari segi cara ngomong mereka di talk show di tipi dulu aja mereka suka nyindir-nyindir dan ngejelekin cagub-cagub yang lain (apalagi Jokowi-Ahok yang kaga pernah ngejelekin balik). Yakin masa kita mau pemimpin yang seperti itu?

Plus jangan pilih cagub yang gendut-gendut buncit deh. Udah stereotype duluan gue kalo orangnya males, tukang makan, tukang korup. Bztt.

Anyway gue beneran tegang loh. Takut kalo Jokowi ga menang. Ihikkk sementara itu gue sendiri ga punya hak pilih. Masih harus masuk kerja lagi ketika perusahaan-perusahaan lain libur! Applause untuk company gue yang super pelit.

Sementara itu banyak pemegang KTP Jakarta yang mau golput (mending golput sih dari pada milih yang lain). Ah mengecewakan sekali. Yowes lah. Semoga orang-orang berKTP Jakarta di luar sana bisa menggunakan hak pilihnya dengan baik. Jangan melihat keuntungan pribadi semata, bahwa kalo Jokowi kepilih nanti 'ini itu' susah, tapi liat masa depan bangsa kita yang seperti apa yang kita mau. We need another Ali Sadikin to make it happen.

Ayo jangan mau selama-lamanya jadi bangsa yang lebih terbelakang dari negara-negara tetangga kita. After all we're smarter and looking quite better than most of them :p (khekekekekek ah tapi emang bener.)

Jokowi Basuki for Jakarta Baru!

Page views.