27 June 2014

Featured: Creative Entrepreneur Corner @ Radio Finance Indonesia

Howrayyyy! Ini adalah pengalaman interview pertama kali di radio buat Peekmybook (thanks mba Wina!). Seru juga haha meski takut salah ngomong, cuma thank God gue kaga gagap-gagap amat. Looking forward for more, aminnnn.



Ps: harusnya bagian pengalaman terburuk selama di Peekmybook itu: hp kena colong :p hahahaha ga kepikiran waktu diwawancara xD

Aidan's First Birthday

"Love you best, love you best~"




25 June 2014

13 years.

The clock says zero and the date in my phone changes to twenty five.


At first I was staring, but slowly it started to feel like I was looking directly into your eyes. 13 years you have gone. I have missed you dearly Papa. Every day, every second. I have missed you dearly.

24 June 2014

Gawat indeed, but it's worth it.

Post ini adalah lanjutan dari cerita ini.

Hari ini, satu minggu setelah kejadian di kelurahan, gue dateng ke kecamatan dengan membawa berkas yang lengkap (sebenernya udah dateng minggu lalu cuma kecamatan minta surat keterangan dari tetangga bahwa usaha gue ngga mengganggu keseharian mereka, jadilah gue pulang lagi deh. Terus satu tetangga gue pake acara ke Korea seminggu lagi......... YA TUHAN...... Bisaan aja nasib mempermainkan gue begini. Hahaha sampe cape gue bolak balik ke rumah dia 9x -.-" alhasil baru hari ini semua berkas lengkap dan gue bisa ke kecamatan lagi.)

Waktu gue dateng minggu lalu, gue ngeliat ada satu bapak yang ngasih coklat (instead of duit) ke resepsionisnya sampe resepsionisnya ketawa, sempat terbersit dalam benak gue, "Ah mungkin di kecamatan mereka lebih beradab, mungkin mereka ga akan malak gue." Tapi ga lama pikiran itu sirna tergantikan oleh pikiran-pikiran pesimis gue dan orang-orang lain yang gue ajak diskusi.

Hari ini sebelum ke kecamatan gue ke RW dulu minta tanda tangan Pak RWnya lagi. Terjadi percakapan ini:
C: Pak nanti di kecamatan saya pasti disuruh bayar ya?
P: Iya lah pasti kalo mereka mah.
X: (Hansip di pos RW) Namanya juga Indonesia non.
C: Kemarin saya di kelurahan dimintain uang Pak, tapi saya ga mau bayar, akhirnya ga bayar si. Cuma kalo nanti harus berantem begitu lagi di kecamatan sih cape banget.
P: *Ketawa* Disini semua begitu, pasti minta. Mereka bilangnya itu bukan korupsi, tapi uang rokok. *Ketawa lagi*
C: Uang rokok tapi kok hampir 200.000, udah bisa nonton bioskop 4x saya. Hahaha.
P: Haha iya coba aja nanti kamu selipin 50.000, liat mau ga.
C: Yah namanya anak muda Pak, diperlakuin begini saya rasanya ga terima. Hehe makasih ya Pak.

Terus gue pergi. Jadilah sepanjang perjalanan ke kecamatan gue berdoa, gue minta Tuhan untuk tolong ngelindungin gue, supaya semua berjalan lancar, dan most of all semoga mereka diberi pencerahan untuk ga malakin gue, karena gue tau eventually gue akan ngelawan lagi kalo misalnya dipalak. Eventually gue ga akan bisa nurut dan diem-diem aja kayak anak cecurut meski nyokap udah merintahin gue demikian. Gue berdoa dan berdoa, and surprisingly, I didn't feel afraid anymore by the time I reached there.

Segala macem taktik gue pikirin, such as misalnya mereka nahan dokumen gue dan mau gamau gue harus bayar, paling ngga gue harus punya bukti foto dan rekaman suara mereka. Jadilah gue prepare semua itu sebelum masuk. Di depan kantor kecamatan Penjaringan terpampang dua spanduk ini:



Hampir rasanya gue tos sama tuh spanduk dan tereak, "Oke let's do it!" hahaha. Begitu masuk gue langsung duduk di row paling depan dan foto muka 4 orang PNS yang lagi duduk di belakang meja resepsionis, salah satu dari mereka adalah mba X yang ngelayanin gue minggu lalu. Akhirnya gue diurus lagi sama dia, disuruh nunggu sekitar 10 menitan, and then gue dipanggil. Langsung buru-buru gue pencet tombol record di hp gue, only to hear she said, "Udah selese mba." Gue tanya, "Oke mba 2 lembar ini aja ya? Udah itu aja ya mba?" Dan dengan sopan dia mengiyakan. Balik badan dan pulanglah gue.

Ya Tuhan....... terima kasih :') Seribu kalimat ngantri pengen gue blog-in segera. Begitu masuk mobil gue langsung berdoa lagi, mengucap syukur ke Tuhan atas kejadian ini. Sepanjang perjalanan otak gue ga bisa berhenti berpikir, mengulas balik semua kejadian dari awal gue ke RT pertama kali. Lemme tell you that every single thing that has happened is now worth it. Meski prosesnya makan banyak waktu, tenaga, dan sempet bikin gue stress dan lain-lain... semua itu terbayarkan detik dimana gue keluar dari kecamatan tanpa perlu bersitegang sama siapapun. Semua itu terbayarkan ketika gue ngeliat senyum di wajah mba X pas dia bilang, "Udah selese mba." Semuanya worth it.

Nyokap, beberapa temen dan sepupu-sepupu gue berulang kali bilang bahwa ga mungkin kita bisa get through this tanpa bayar, bahwa di Indonesia, there is no such thing anymore. I began to waver as I heard those words again and again.. Padahal harapan selalu ada meski kecil; dan benar bahwa perubahan besar pada negara ini dimulai dari hal kecil seperti ini. Bayangkan kalo kita semua KOMPAK menolak membayar, memilih untuk unjuk gigi mempertahankan hak kita sebagai rakyat, gue rasa lambat laun hal palak-palakan ini akan no longer menjadi "wajar lah, namanya juga Indonesia."

I truly thank those who wrote positive feedbacks on my blog post. I thank all my friends yang udah message gue secara pribadi, menyampaikan concern mereka agar gue lebih hati-hati tapi at the same time mendukung apa yang udah gue lakuin. For the past couple of days, dengan orang-orang disekeliling gue kebanyakan menentang dan menyalahkan gue, I began to think that it's gonna be so hard and frustrating to fight like this again. That's why your positive comments and words were very much appreciated because they somehow gave me more strength. I thank my friend Fika, yang meski ga gitu deket sama gue tapi bisa show a big amazing support by sharing this story to Ahok's assistants. Orang-orang seperti kalian yang peduli dan terang-terangan memberikan dukungan, secara ga langsung juga telah membantu mengurangi rasa takut di dalam diri gue. I feel like I am not alone. Karena gimana pun juga gue bukan semacam wonderwoman yang super berani, sometimes many times gue cuma sok berani :p So yea, thank you guys. Cheers.

23 June 2014

Ngartis sehari dua hari.

Whoa. Ntah gimana ceritanya post gue soal kelurahan kemarin itu tiba-tiba sedikit viral di (kayaknya) Facebook. Ga pernah seumur-umur kayaknya gue liat page views sebegininya dalam sehari hahaha. Sosmed is such an amazing thing o.O' Yang gue bingung di Facebook gue kayaknya sepi-sepi aja kaga keliatan ada yang ngeshare.. berarti yang ngeshare orang asing dong ya, terus gimana cerita itu artikel bisa ke share ke kebanyakan orang luar? :| Whateva. Sekedar update pertarungan sama Kecamatan masih on progress haha. Terakhir kali kesana si meski niat awal ga mau ngelawan tapi tetep dorongan dari dalam hati maunya nentang terus. Pret.





Btw happy birthday Jakartahh! Please dewasa lah sedikit jangan dikit-dikit macet + banjir.
Haha okay bay.

20 June 2014

My mood booster.





^ Mau tampil ganteng meski sedikit botak ^



^ Sisirin (pipi) Soy Ie ^

18 June 2014

Honda.

Barusan telp sama Efendy cerita soal post di bawah, percakapan pun bergulir ke hal-hal absurd lainnya. Fyi bagi yang lupa atau bahkan belum tau, dia adalah orang Indo (temen Taylor's gue dulu) yang tinggal di Malaysia dari th 98 dan baru akhir-akhir ini for good balik Indo, jadi dia hampir ga bisa ngomong bahasa Indonesia, tapi masih ngerti sedikit-sedikit. Doi cerita tentang gimana dia baru aja bikin SIM 2 bulan lalu (dulu kan dia tinggal di Malaysia jadi dia ga pernah punga SIM Indo), lalu terjadilah percakapan ini:

C: Terus gimana skill nyetir lu?
E: Ya udah lumayan oke *dikatakan dengan broken Indonesian language*
C: Lebih susah nyetir disini kan pasti dibanding di Malaysia?
E: Ya ga juga sih, hanya perlu lebih waspada sama yang pakai Honda.
C: BAHAHAHAHA! Apa, Honda?!! (Sumpah gue subuh-subuh ngakak, gue yakin maksud dia itu pengendara motor...... HAHA HONDA...)
E: Iya mereka kan..
C: TUNGGU DULU! Maksudnya Honda tuh apa hah? Jelasin dulu!
E: Motorbike. *Dikatakan sambil pasrah*
C: HAHAHA mati la Ef! Why did you say Honda?! Itu kan merk, you don't use it that way! Sumpah bahasa lu si cacat abis.

HAHAHA! Thanks for the good laugh Ef xD

17 June 2014

Pake calo gawat, ga pake calo lebih gawat lagi.

Bear with me, this is gonna be such a LONG post, but it's worth your time, I promise. Kalo males babibu langsung aja lompat ke bagian merah-merah di bawah, dijamin nyamitus! :p

Tanggal 9-10 Juni 2014:

- Setelah bolak-balik rumah-RT-RW 4x di hari yang berbeda-beda (karena kurang dokumen and etc) akhirnya gue dapet surat pengantar untuk pembuatan surat domisili perusahaan dari RT dan RW setempat.

- Pagi hari ngobrol sama pengurus RW namanya Pak M, dia bilang kalo mau "minta bantuan orang kelurahan biar diurus sampe selesai ke kecamatan bisa, harganya 500.000, tapi kalo anak muda mah coba aja buat sendiri sampe selesai." Gue bilang, "Kemarin kata Pak RT biasa diminta 300.000 Pak?" Pak M bilang biaya sekarang udah beda. Gue bilang ke dia gue emang ga mau bayar orang dan mau coba urusin semuanya sendiri.

- Siang hari yang sama gue balik lagi ke RW soalnya ketinggalan beberapa hal kecil, ketemu lagi sama Pak M, kali ini pak RW di daerah rumah gue (namanya ga tau siapa) lagi nongkrong, jadilah gue ngobrol sedikit sama dia. Gue nanya dengan polosnya ke doi, "Itu kalo bayar 500.000 di Kelurahan, di Kecamatan ga bayar lagi kan?" Pak RW cuma jawab "Bayar apa? Ga bayar apa-apa, paling kasih uang rokok." Gue pun cuma "Oooo.." sembari nengok ke Pak M yang diam seribu bahasa. Owhhh what a sweet sweet lovely Pak RW, gatau dia emang beneran gatau atau simply gamau ngebahas hal itu ama gue.

- Gue pun melakukan banyak research di Google dan ada banyaaaaakkkk banget cerita orang dimana meski mereka ngurus semua sendiri (ga pake calo), mereka tetep dimintain uang ketika dokumen itu udah ready dan siap diambil. What the banget kan. Mending pake calo aja dari awal kalo gitu. Nah karena aga horor dengan cerita soal "diminta uang", sebelum kejadian gue inisiatif sms si Ahok dulu. HAHA gue jadi aga berasa nejong soalnya nyokap, nci dan sang pacar udah bolak balik ngomelin gue "Jangan dikit-dikit sms dia lah! Dia juga banyak kerjaan." Ya iya sehhhh, abisnyaaa... Lagian kan udah pernah foto bareng ya Pak, udah hampir hopeng lah ya kita. Haha. Berikut isi smsnya:




- Dalam ati gua kalo lurahnya bener masa iya bawahannya bisa semena-mena itu malak orang. Lagian gimana cerita sih nyari lurah, masa gue dateng ke kantor terus bilang ke si Mba F (resepsionisnya yang ngurusin dokumen gue juga), "saya mau ketemu lurahnya aja." Kan ga segampang itu, ketauan duluan dong taktik mau ngadu gue. Errrk, ga helpful banget jawabannya. Anyway tanggal 10 Juni Jam 2 siang kurang abis selese dari RW gue langsung cusss ke kelurahan (dengan membawa dokumen lengkap yang disuruh RW). Sampe sana disambut resepsionis di bawah, yah itu yang namanya Mba F yang tadi gue sebut. Dia minta tukeran no hp dan suruh gue tinggalin berkas-bekasnya, katanya nanti akan dicek kelengkapannya dan dihubungi kalo mereka butuh sesuatu. Terus dia nanya, "Ini mau diurusin sampe selese atau sampe sini aja?" Gue tanya "Biayanya berapa kalo ampe selese?" Dia jawab, "Ya nanti ada." Gue bales, "Nanti sms aja ke saya biayanya berapa." Dia oke, dan lalu pulanglah gue.

11 Juni 2014

- Ditelp sama orang kelurahan yang saat itu cuma menyebutkan diri dia adalah sekertaris lurah (later I found out nama dia Pak K). Pak K minta 3 berkas tambahan ke gue. Lalu telpon beralih ke Mba F lagi yang suruh gue segera submit berkas-berkas itu, kalo bisa besok. Gue bilang mungkin ga bisa secepet itu tapi akan gue usahain sesegera mungkin. Dia nanya sekali lagi by phone, mau diurus sampe ke kecamatan (yang artinya gue harus bayar) atau mau urus sendiri? Gue jawab mau urus sendiri aja.

17 Juni 2014

- 16 Juni malem gue baru dapet semua berkasnya dari ie-ie gue (karena rumah ini under her name dan berkasnya aga terpencar-pencar, it took quite some time to collect them). 17 Juni jam 2 siang gue ke kelurahan lagi, ketemu lagi sama Mba F di resepsionis. Awal-awal liat gue dia senyum ramah banget, begitu gue ingetin gue siapa senyum dia aga memudar, haha oh why mba whyyy. Dia suruh gue langsung naik ke lt.2 dan cari Pak K. Sesaat setelah gue pergi dia tiba-tiba manggil lagi suruh gue tunggu di lt.1, dia mau telponin Pak K dulu bilang gue dateng. Too bad hpnya ga diangkat, akhirnya dia suruh gue naik anyway. Dalem hati gue, orangnya cuma diatas... ngapain pake telpon... I'll tell you why later.

- Naik ke lt.2 ruangan Pak K ternyata kosong. Di depan ruangan dia ada 1 bapak berdiri, gue bilang ke dia, "Mau cari Pak K." Dia dengan aga segan nunjuk ke arah depan tapi langsung samperin gue dan nanya ada perihal apa. Gue ngelongok dan liat ada 2 orang lagi ngobrol di ruang depan, I assume itu Pak K lagi terima tamu.

- Si bapak ini namanya Pak E, dia nanya-nanya soal usaha dan kelengkapan surat gue, gue jelasin lagi dari a-c. Terus dia bilang, "Oke lengkap, diproses ya." Gue pun ngikutin dia ke meja dia, dia ngeluarin secarik kertas dan nulis nama dan no hp dia, suruh gue catet untuk kontekan later. Gue nanya berapa lama masa pengerjaannya, dia bilang tergantung kalo atasan sempet ya cepet, kalo sibuk ya lama.

- Tanpa nanyain apa mau gue, Pak E langsung bilang nanti akan ngurusin sekaligus ke kecamatan, jadi gue tinggal tau beres dan collect lagi suratnya di kelurahan. Okay. Gue ngerti ini maksudnya gue harus bayar, tapi I swear gue ga berani nanya ke dia berapa biayanya (mungkin karena muka dia aga menyeramkan, hahahaha). Dia pun ga ngomong ke gue soal biaya. Bahaya kan ini, bisa-bisa nanti pas file udah jadi gue dipalak sesuka hati. Tapi gue ga nanya anyway, gue turun siap-siap mau pulang dan rencananya mau sms dia aja di mobil (cupu banget ga sih).

- Di lt.1 pas udah mau keluar pintu, si Mba F manggil dengan lantang dari meja resepsionis, gue samperin lah dia dan terjadi percakapan ini:
F: Mba udah ketemu Pak K?
C: Ketemu Pak E tadi.
F: Loh kok jadi Pak E?
C: Pak Knya ga ada, saya disambut Pak E terus langsung diurusin.
F: Yah harusnya tadi turun cari saya, kemarin kan diurus Pak K, ntar jadi ga enak sama Pak Knya. (What the f..? Ga enak kenapa? Karena yang berhak 'dapet jatah' dari gue jadi Pak E bukan Pak K? Oh God. Padahal gue dah bilang juga ke dia mau urusin semua sendiri kan. Ini kah alesan kenapa dia tadi mau telp Pak K dulu? Mungkin biar ga 'disalip'.)
C: Oo saya ga tau sih, Pak E tadi langsung mau ngurusin. Itu Pak E bilang mau urus sampe kecamatan, tapi ga ada bilang biaya berapa. Saya perlu nanya ga ya?
F: Ya coba aja, ada tukeran hp kan? Nanti ditelpon paling sama Pak E.
C: Oke.

- Terus gue cabut ke mobil. Dalem hati what the fffff banget gue pas Mba F bilang "nanti jadi ga enak sama Pak K". Should I care about skenario jatah-jatahan lu orang? Gila terang-terangan ga malu mereka ya... Wow.

- Di mobil (masih di lapangan parkir kelurahan) ga pake lama gue sms Pak E:



- Wow kalo pake duit "mudah-mudahan besok sore udah selese." Cepet sadissss ya pak.... Anyway sebenernya gue ga pernah ada nego sama siapa-siapa soal 300.000. Gue cuma mau ngarang aja biar seolah-olah si Pak E mikir si Pak K nawar cuma 300.000 dan kalo Pak E ga ngasih segitu gue bisa aja lari kontek Pak K lagi. Hahaha whatever lah gue cuma mau ngetes dan sok kepinteran aja di depan dia. Too bad kaga berhasil tuh tawar-menawarnya (padahal udah sok menyedihkan juga dengan bilang belum dapet untung :p). Abis gue nego sama dia gue telp nyokap, nyokap bilang kalo mereka semua itu sama aja dan mau duit, ngapain gue cape-capein diri. Doi bilang udah bayar aja 500.000. Gue yakin 90% orang yang kena palak pun berpikir demikian, mendingan keluar duit dari pada buang tenaga dan waktu ngadepin orang-orang begitu.

- Sebenernya kalo Pak E mau 300.000, gue pun udah gamau rempong-rempong lagi and was about to seal the deal, tapi thank God dia ngejawab demikian, jadilah I got my right mind back and decided to fight about this.

- Jam 16:45 gue ditelp Pak E, katanya dokumennya udah siap diambil. Jadilah gue langsung dateng dan sampe di kelurahan jam 17:00 pas. Di dalem kantor udah kosong melompong, cuma sisa gue, Pak E sama 1 cowo lagi yang masih muda, berbaju putih dan katanya kerjanya ngurusin kependudukan.

- Pak E kasih gue surat-suratnya, terus gue setengah balik badan mau pulang sambil bilang, "Makasih Pak," and that's when things got serious, dia pun nanya gue:
E: Loh untuk kelurahannya mana? Rp 150.000? *Dia ngomong sambil duduk*
C: Maksudnya? Biaya apa ya? Saya kan mau urusin ke kecamatan sendiri.
E: Ya kan saya tadi udah bilang, Rp 150.000 untuk kelurahan. Itu biaya administrasi, tadi udah saya talangin.
C: Akan dapet kwitansi ga ya Pak?
E: Oo ngga, kita disini ga pake kwitansi-kwitansian.
C: Saya mau bayar tapi pake kwitansi.
E: Kita ga kasih kwitansi, nanti di kecamatan juga sama kamu akan diminta uang.
C: Oke gapapa, saya akan bayar, tapi disana pun saya akan minta kwitansi dengan tertera nama jelas. *Lalu gue duduk di depan dia, tadi masih berdiri*
E: Kita ga pake kwitansi-kwitansian disini.
C: Pak maaf saya bukannya mau sebut-sebut gimana, tapi saya kenal Pak Wagub Ahok dan saya tau ini harusnya ga bayar. Jadi kalo mau, saya minta kwitansi.
E: *Raut muka langsung berubah* Ya udah kalo mau kwitansi. *Pergi ngambil kwitansi*
C: Oke. *Nunggu aga lama*
E: *Dateng, nyodorin kwitansi, sambil ngedumel* Tau gitu kamu ga saya talangin dulu, saya udah keluar duit ke kelurahan Rp 150.000.
C: Loh kalo emang harus bayar, saya akan tetep bayar Bapak. Jadi ga ngaruh dong Bapak talangin dulu atau ngga? Pak saya ngomong dulu ya di depan Bapak, biar kesannya saya ga ngomong cuma di belakang. Kwitansi ini akan saya bawa ke Pak Wagub dan saya akan sebut nama Bapak E untuk klarifikasi masalah ini.
E: *Mendadak suara kenceng dan tangan langsung ngambil dan lecekin kwitansi yang ada di depan gue* Ya udah kalo ga mau bayar ga usah! *Langsung beranjak pergi*
C: *Masih duduk, nengok ke arah dia yang lagi jalan ke pintu keluar* Loh kalo mau saya bayar gapapa, ini saya bayar. Saya hanya minta kwitansi aja.
E: *Sambil nunjuk-nunjuk gue ngomong ke cowo muda berbaju putih yang dari tadi nonton* Ga tau aturan dia disini gimana, saya udah talangin 150.000 juga! Pake minta kwitansi!

- Terus dia beranjak pergi keluar pintu sebelum gue sempet ngomong lagi. Sang cowo baju putih itu bisik-bisik ngajak ngobrol gue:
X: Mba sini deh saya jelasin.. *Ngajak gue ke ruangan dia, dengan begonya gue ikutin juga, untung ga diapa-apain :p* Blablablabla (intinya jelasin kalo uang itu adalah ongkos mereka ke kecamatan buat beresin surat-surat gue. Terus biasa mereka juga bagi-bagi tiap pihak ada jatahnya blablabla)
C: Loh ini saya cuma minta tanda tangan lurah. Bukan ke kecamatan loh. Ini besok saya jalan sendiri kesana.
X: *Kaget* Loh jadi itu baru sampe kelurahan? Bukannya udah selese?
C: Belom. Makanya enak aja. Saya ngerti kalo saya minta tolong dia ya saya harus bayar, lah ini kan saya mau jalan sendiri ke kecamatan. Makanya tadi dia bilang nalangin tuh nalangin apa sih? Dia memangnya bayar kemana?
X: Wah kalo itu saya kurang tau mba, itu mungkin urusan sama yang diatas. Saya sih disini cuma ngurusin kependudukan.
C: Lurahnya ada?
X: Udah pulang mba.

-----

Gue ceramahin dikit lah si cowo muda itu haha, gue bilang ini lurahnya gimana sih, apa jangan-jangan lurahnya minta jatah juga. Wong wagub orang Pluit, masih berani-beraninya malak begitu. Si cowo muda itu cuma iya iya sambil bilang sabar ya mba hahahaha. Sumpaaaaaaaaaaaaahhhhhh kesel banget gue. Not to mention muka dan nada si Pak E pas ngomong ama gue udah kayak dia yang punya seluruh tanah di Pluit aja, intimidating, maksa, ngedikte, dan tanpa rasa malu. Please pardon me for bawa-bawa nama Ahok ahahaha, whatever yang penting works kan. Udah macam mantra aja tuh nama dia. Besok nih ke kecamatan gue worry apa gue harus bersitegang gitu lagi apa ga. Sumpah enek muak cape dll.

Gue super upset deh digituin, I mean who wouldn't be? Meski sebenernya gue udah gondok dari tadi siang, gue tetep mau liat sampe sejauh apa mereka bisa berulah. Gue mau liat kalo gue bilang "no, I don't wanna pay you", apa yang bakal mereka lakuin? Gue mau paling ga sekali deh rasain, seberapa sampahnya si birokrasi di Jakarta - or Indonesia. And I think I am really really on fire about this because it happens even under Jokowi & Ahok's leadership. Sia-sia dong gue ngetik panjang lebar di Fb, twitter, blog dari jaman kuda, nyerocos sampe bibir jontor ke temen, sodara, atasan di kantor untuk perjuangin Jokowi Ahok dulu dan SEKARANG kalo hal sepele kayak gini aja gue harus diperlakukan tidak adil juga. Fuck no.

Nyokap gue pulang-pulang ngoceh panjang lebar nyeramahin gue, as if gue yang salah (tapi mostly karena dia kuatir ama gue sih). Sang pacar juga negur bilang gue ngebahayain diri sendiri. Dan gue tau most of you who read this will also think "Ya elah bayar aja kali cuma seberapa doang, dari pada keksim sendiri." Padahal ini bukan masalah uang sama sekali, tapi kalo gue jelasin panjang lebar sekali pun belum tentu yang gue maksudkan tersampaikan juga. So yea maybe I will pay them after this. Mungkin besok di kecamatan gue akan bayar berapapun yang mereka minta dan lakuin apapun yang mereka mau. Mungkin next time gue ga akan bother urus sendiri, gue akan bayar calo dari awal supaya tau beres. Because how can I fight about this right thing alone if everyone else around me doesn't show any support? Dan mungkin mereka emang bener juga, suara satu orang Cicil bisa segimana ngaruhnya sih buat Jakarta? Yang ada gue cuma membahayakan diri sendiri dan buat nyokap dan sang pacar kuatir terus. Sumpah hati gue sedih banget tadi pas dimarahin nyokap. Gue sedih, dan mostly karena sebenernya gue pun takut. Gue merasa begitu kecil, lemah, dan intimidated tadi. Tangan gue gemeteran sembari ngomong sama si Pak E dan hati gue deg-degan ga karuan. Makanya begitu pulang ke rumah kena semprot lagi gue jadi ngerasa makin tertekan dan down. I don't blame her thou.. gue tau nyokap juga ngotot demi kebaikan dan keamanan gue. Sigh.

Terakhir, teruntuk Bapak Ahok entah dimanapun dia berada, entah gimana caranya I'll try my best to pass this long and messy writing to him. Mau dibaca sekilas pas lagi luang, atau bahkan dijadiin bacaan buat di wc pun gapapa, as long as hal ini dibaca. Mungkin dibanding masalah monorail dan blablabla hal ini hal sepele, dan Bapak ga punya waktu sebanyak itu untuk mengurus semuanya sekaligus. Tapi pegawai negri yang ada di kelurahan, kecamatan, dan lain-lain adalah orang-orang yang langsung berhubungan dengan rakyat. Mereka adalah orang-orang yang mencerminkan Bapak dan Pak Jokowi. Kalau bener kata Pak Jokowi, rakyat adalah yang terpenting, maka pemasalahan yang keliatan sepele seperti ini juga mau gamau menjadi penting. Kalo Bapak bener-bener baca ini sampe abis, thank you, dan kalau Bapak mau marah-marah ke mereka tolong jangan bawa-bawa nama saya (wahahaha). Please know betapa hopelessnya orang-orang macam saya yang ga mau begitu aja dicucuk idungnya sama pihak-pihak ga bertanggung jawab tapi gatau harus ngelapor dan minta tolong kemana. Sms Bapak jawabannya begitu, sms Pak Kamil jawabannya begitu. Begitu hopelessnya orang-orang macam saya yang mungkin bagi banyak orang termasuk teman-teman dan sodara-sodara terdekat, dianggap naive karena masih berpikir mungkin Bapak dan Pak Jokowi memang bisa merubah Jakarta menjadi tempat yang jauh lebih baik. Begitu hopelessnya orang-orang macam saya yang mau mengikuti 'sistem' yang Bapak sekalian buat, tapi kesulitan mencari teman seperjuangan, dan ketika mencari backingan belum tentu Bapak sekalian ada ketika dibutuhkan. Begitu hopelessnya orang-orang macam saya yang meskipun sulit, tapi memilih untuk tetap percaya.

Okelah sekian. Cape ngetiknya haha. Maaf ya Pak mungkin kedepannya saya bakalan make calo-caloan. Gapapa lah ya asal bukan cabe-cabean :)

Update 24 June 2014: Kelanjutan cerita ini di kecamatan Penjaringan.

16 June 2014

Google says: Jokowi vs Prabowo







Hahaha ada apa sih dengan Prabowo dan kebiri / kemaluan? Mentang-mentang jomblo keywordsnya pun identik dengan begituan xD

15 June 2014

Sometimes, up to this day.

Sometimes, under certain circumstances, it's okay to complain and to give advice. It's great that even thou we are tired of discussing the same thing, we still do it anyway to clear things up. It's okay to argue, and it's completely fine to disagree. Cause after all that's communication.

Sometimes, under certain circumstances, it's even better if we still complain about each other, because the day we stop complaining might be the day we stop caring.

13 June 2014

Istirahat sejenak.

Beberapa hal menarik yang gue temuin di internet lately:

Ini iklan pemutih muka yang ada di Instagram. BUKANNYA GUA NYARI BUAT GUA LOH.
Haha langsung panik menjelaskan. Ntah gimana lah ketemunya gue lupa. Sumpah ya orang
China si parah, kaga niat abis. Ini cuma tinggal photoshop kulit si cewe kanan jadi gelapan dikit
sama mulutnya di "skew" dikit jadi mengsong, dah rebes. Ee dibilangnya before after hahahaha.

Yang ini pun sama parahnya, cuma badan diclone doang dibilang before after.
Aigoooo. Hahaha geli gua liatnya xD

HUAKAKAKAK. No explanation needed buat yang ini xD


Foto di bawah ini gue capture pas macet di tol, haha jarang-jarang ada truk bertuliskan sesuatu yang maknanya dalem, biasa cuma macam, "Dibuang sayang, dimadu perang" atau, "Putus cinta sudah biasa, putus rem, mati kita", "Gwa ga ngiler harta dan tahta, gwa ngiler kalo tidur miring." Hahaha mota kan! Sumpah ngakaque, list lengkapnya silahkan mampir kesini.

Baiklah bang.

12 June 2014

Sumpah aku ga rapopo.

Beberapa hari ini kepala mau pecah gara-gara lagi ngurusin minta surat domisili perusahaan sama RT, RW, Kelurahan dan Kecamatan. Hadeh. Pake calo ga pake calo, tetep kena palak juga denger-denger. Gue sih belum sampe ke tahap dipalak, we'll see. Sekarang gue kan ngurus sendiri dari A sampe Z, sumpah bolak-baliknya kaga tahan, terus data menurut A udah lengkap, eh menurut B kurang ini ono, disuruh balik lagi. Aduh Tuhannn... plus ini ktp Pamulang blablabla mempersulit segalanya. Gue udah mau nangis bombay rasanya dari kemarin.

Setelah bolak balik 4x (yes 4 freaking times) di RT RW, akhirnya submit data lengkap di Kelurahan. Eh diminta lagi tambahan surat ini itu. Ie-ie gue yang punya surat ini itunya katanya lupa taro dimana, harus cari dulu. T_______T hadeh. Gila hidup di Indo kalo lu mau pake jalan jujur soleha blablabla tanpa duit kaga mungkin deh kelar cepet. Melatih kesabaran mental banget nih.. :( Ini kalo ampe gue dipalak juga si enek banget. Mendingan pake calo dong dari awal, toh sama-sama bayar juga. Aduh wanjeng lah.

Saking mumetnya pala ngerjain apaaaa juga salah. Mau bayar sesuatu, ada Paypal malah kepencet pake Credit Card. Kamfretus kena cas lebih mahal deh adogh. Kirim barang ke US, salah itung ongkir, nomboklah gue sampe hampir Rp 200.000 (again, dulu udah pernah kejadian). Anj.. Terus bisa-bisanya yang ngetik alamat salah lagi. Gue telp katanya harus balik lagi buat minta dibenerin, gantian udah balik kesana, dibilang ga usah dibenerin gapapa. Wancoooollll.

Utang design ama orang, bisa-bisanya chatnya keapus.... Padahal gue udah nanya 2x lebih di history chat itu apa aja yang dia mau gara-gara kampretnya gue ga catet di buku jadi bawaannya lupa terus. Ga mungkin dong sekarang gue nanya lagi ke dia, "Kemarin apa aja yang mau dibuat?" Aduhhhhh taikkk. Mengorek memori otak yang paling dalem lah gue buat inget-inget sepotong dua potong request dia. Ga biasanya banget nih :( Biasanya gue langsung organize semua hal dengan baik di buku.... :'(

Ada lagi orang mau booking sewa apartment gue tapi tanggalnya overlapping, dan again gue mengambil jalan yang salah dalam memutuskan. Diceramahin sama sang pacar baru otak gue ngeh. Ga boong ya otak gue jadi bodoh akhir-akhir ini :(

TUHAAAAANNNN T_________T

05 June 2014

Tong san ba.

Percakapan sama Sammy barusan:

S: Soy ie aku udah bisa yi er san si wu liu qi ba jiu shi (123 pake bahasa mandarin) *terus dia lanjut ngitung sampe 29 secara cepet*
C: Terus abis itu apa? San pa? (San = 3, ba = 8, jangan komentar, gue bukan bego cuma lagi males mikir and asal sebut aja :p :p)
S: *Ketawain gue* Bukan! San shi!
C: Oh iya ya san shi ya haha Soy ie salah informasi.
S: San ba mah yang dibuang ke trash bin.
C: ._. *loading, lalu ngeh* Hahahaha!! Sampah kaleee!

Buakakakak bisa ajijah ni anak, udah berasa kayak Dandys (duo laki super jayus) dari Prambors kali.

04 June 2014

Dokter gila dan rumah sakit apung.

Dulu banget gue pernah baca berita soal "dokter gila" ini, yang katanya suka ngobatin orang ga mampu tanpa memungut biaya; nah barusan gue nonton dia di Kick Andy 7 Mei 2014:



Beliau bernama Dr. Lie Dharmawan. Big applause, big salute, big love and pray for this person. Betapa kagetnya gue pas tau sekarang beliau udah punya sebuah Rumah Sakit Apung pertama di Indonesia (berada di atas kapal) yang berlayar ke daerah-daerah terpencil untuk mengobati orang-orang yang tidak mampu. Semua gratis tanpa pungutan biaya sepeserpun. Bayangkan gimana beliau beli kapal nelayan jelek dan dia rombak sendiri sampe layak. Bayangkan berapa banyak biaya dan tenaga yang harus dia keluarkan untuk run this hospital, yang again, tidak menghasilkan uang sepeserpun. Di dalem video ditunjukin juga banyak dokter-dokter muda yang ikut terlibat sebagai sukarelawan. Sumpah gue salut.

Air mata gue jatuh seiring dengan pecahnya suara sang dokter di menit 56:30, ketika dia ngequote kata-kata nyokapnya dulu, "Kalau kamu jadi dokter, jangan memeras orang kecil, mereka akan bayar kamu, tapi mereka akan menangis di rumah karena mereka ngga punya uang untuk beli beras." 

Banyak hal di negara ini yang ga bisa kita ubah meski hati gondok dan geram, seperti ngeliat koruptor dibebasin, polisi nilang kita sembarangan padahal kita ga salah, angkot yang ugal-ugalan ga tau aturan, maling dan copet dimana-mana, dan lain-lain. Abis nonton ini gue start to wonder, why worry about those negative things? Ketika di depan mata ada sesuatu yang begitu mulia sedang berjalan, and I can be a part of that. I can help. You can help.

Ini Fb fan page mereka. Dan ini gimana caranya untuk bantu mereka dengan menyumbang. Sumbangan berapa pun itu will help. Mungkin saat baca tulisan ini banyak dari kalian yang berpikir, "Wow baik banget dokternya, oke lah ntar deh kapan-kapan" dan langsung ngeclose window post ini. But trust me, when you do actually help them, kalian akan merasakan kepuasan, harapan, dan kebahagiaan di hati yang ga bisa quite digambarkan dengan kata-kata.

Ayo sisihkan sedikit uang jajan and let's help! Spread his story so many more people will know, and many more hands will help.

02 June 2014

We're doomed.





Shhhhhiiiit. Bagi yang males nonton video di atas, lemme summarize it for ya:

Jadi bintang tamu Kick Andy & Sarah Sechan di atas namanya Dr. Arkand Bodhana (nama terakhir dia susah), dia dokter lulusan universitas di Los Angeles, USA jurusan metafisika. Dari kecil udah keliatan "beda" karena bisa ngeliat makhluk dari dimensi lain, dan bahkan berinteraksi dengan mereka. Suatu ketika pas remaja dia encounter seseorang (yang eventually jadi guru dia) yang memperkenalkan dia dengan metode meramal dari nama dan tanggal lahir untuk mengetahui nasib seseorang. Oke lah mungkin bukan ngeramal ya, mungkin berhitung atau apa lah gue ga ngerti, gue sebut aja meramal.

Jadi mulai saat itu dia belajar untuk memahami hal ini lebih dalam. Di awal video Kick Andy dia ada berusaha menjelaskan how this thing works dengan cara logis, tapi tetep aja gue kaga ngerti sama sekali hahaha. Intinya selama ini dia banyak bantu orang yang kena penyakit, atau kena tipu, menjadi orang yang hidupnya lebih baik dengan cara mengubah nama mereka. Menurut dia nama kita punya kekuatan yang bisa menentukan jalan hidup atau nasib kita di depan gimana. Serem sih, tapi hal kayak gini adalah masalah percaya ga percaya. Silahkan kalian nilai sendiri. Gue personally, untuk setiap hal di dunia ini yang ga bisa gue buktikan sendiri kebenaran atau ketidak-benarannya, entah itu masalah makhluk halus, agama, hal mistis, dan lain-lainnya yang ga punya rumus dan jawaban pasti, gue ga pernah bilang gue ga percaya, dan ga pernah bepikir bahwa hal-hal tersebut tidak benar. I think the universe is mysterious, and everything, everything is possible. Sama hal nya juga dengan rumus ramalan hitung nama ini.

Di akhir kedua video di atas, Dr. Arkand mengatakan bahwa nama Indonesia adalah pilihan yang buruk, dan nama tersebut ikut menyumbang alasan kenapa Indonesia begitu 'gagal' sebagai sebuah negara. Beliau menyarankan kita mengganti nama menjadi Nusantara - seperti sedia kala. Dan menurut beliau kalau kita insist on using Indonesia, akan terjadi hal-hal di bawah ini, yang gue kutip dari kata-kata dia dari menit ke 5:04 di video Sarah Sechan:

"Ada fase-fase dimana sangat negatif. Sebagai contoh 1994 ke 1998 itu ada kode negatif 14, yang menunjukkan suatu gerakan pembaharuan dan tidak dapat diblokir waktu itu, sehingga akhirnya order baru berhenti dan Pak Harto turun. Dan pola yang sama dengan tekanan yang lebih besar itu dimulai tahun ini 2014 dan berakhir di 2023, dengan puncaknya ada di 2020."

T_________________T APAAAAA?!!! Gara-gara Prabowo bakal kalah capres nih jangan-jangan? :( Sumpah serem. Yang gue penasaran dan berharap Dr. Arkand bisa paling ngga jelasin setelah mengeluarkan statement semengerikan itu adalah, apakah kalo pemimpin negara ini diganti, bisa ada chance nasib yang digariskan nama Indonesia berubah?

Dia kan meramalkan hal ini ketika saat ini Indonesia dipimpin oleh SBY, what about later? Karena begini, ketika dia disuruh ngeramal nama partai (misalnya PDIP atau Golkar) di video Kick Andy (gue lupa menit ke berapa), dia bilang kalo ngeramal partai itu hasilnya ga bisa fix karena di dalam partai banyak orang yang berperan. Sama halnya dengan negara dong? I wish the result will change according to the leader sih, karena kalo ngga sih serem banget.... I couldn't even imagine, what kind of greater force is greater than the one we saw in 1998? :(

If I don't want.

Jemput Sam sekolah, di mobil:
S: *Nunjukin cupacup* Soy ie look at this! If I don't want, I give it to you okay?
C: Okay. Do you still want it now?
S: Yes. *Terus minta mba e bukain*

Pas nyampe rumah, udah diemut-emut 30 menit ama dia, tiba-tiba dia samperin gue:
S: *Julurin cupacupnya ke depan muka gue*
C: No thank you.
S: Tadi di mobil aku bilang apa?

Wott? Bahahah jadi maksudnya itu? Gue jadi semacam tong sampah? Kamfretus xD

01 June 2014

No reason needed.

Sometimes things went wrong for no reason. It's fine.
Take a break, take a nap, and soon everything will be ok.

Page views.