24 June 2014

Gawat indeed, but it's worth it.

Post ini adalah lanjutan dari cerita ini.

Hari ini, satu minggu setelah kejadian di kelurahan, gue dateng ke kecamatan dengan membawa berkas yang lengkap (sebenernya udah dateng minggu lalu cuma kecamatan minta surat keterangan dari tetangga bahwa usaha gue ngga mengganggu keseharian mereka, jadilah gue pulang lagi deh. Terus satu tetangga gue pake acara ke Korea seminggu lagi......... YA TUHAN...... Bisaan aja nasib mempermainkan gue begini. Hahaha sampe cape gue bolak balik ke rumah dia 9x -.-" alhasil baru hari ini semua berkas lengkap dan gue bisa ke kecamatan lagi.)

Waktu gue dateng minggu lalu, gue ngeliat ada satu bapak yang ngasih coklat (instead of duit) ke resepsionisnya sampe resepsionisnya ketawa, sempat terbersit dalam benak gue, "Ah mungkin di kecamatan mereka lebih beradab, mungkin mereka ga akan malak gue." Tapi ga lama pikiran itu sirna tergantikan oleh pikiran-pikiran pesimis gue dan orang-orang lain yang gue ajak diskusi.

Hari ini sebelum ke kecamatan gue ke RW dulu minta tanda tangan Pak RWnya lagi. Terjadi percakapan ini:
C: Pak nanti di kecamatan saya pasti disuruh bayar ya?
P: Iya lah pasti kalo mereka mah.
X: (Hansip di pos RW) Namanya juga Indonesia non.
C: Kemarin saya di kelurahan dimintain uang Pak, tapi saya ga mau bayar, akhirnya ga bayar si. Cuma kalo nanti harus berantem begitu lagi di kecamatan sih cape banget.
P: *Ketawa* Disini semua begitu, pasti minta. Mereka bilangnya itu bukan korupsi, tapi uang rokok. *Ketawa lagi*
C: Uang rokok tapi kok hampir 200.000, udah bisa nonton bioskop 4x saya. Hahaha.
P: Haha iya coba aja nanti kamu selipin 50.000, liat mau ga.
C: Yah namanya anak muda Pak, diperlakuin begini saya rasanya ga terima. Hehe makasih ya Pak.

Terus gue pergi. Jadilah sepanjang perjalanan ke kecamatan gue berdoa, gue minta Tuhan untuk tolong ngelindungin gue, supaya semua berjalan lancar, dan most of all semoga mereka diberi pencerahan untuk ga malakin gue, karena gue tau eventually gue akan ngelawan lagi kalo misalnya dipalak. Eventually gue ga akan bisa nurut dan diem-diem aja kayak anak cecurut meski nyokap udah merintahin gue demikian. Gue berdoa dan berdoa, and surprisingly, I didn't feel afraid anymore by the time I reached there.

Segala macem taktik gue pikirin, such as misalnya mereka nahan dokumen gue dan mau gamau gue harus bayar, paling ngga gue harus punya bukti foto dan rekaman suara mereka. Jadilah gue prepare semua itu sebelum masuk. Di depan kantor kecamatan Penjaringan terpampang dua spanduk ini:



Hampir rasanya gue tos sama tuh spanduk dan tereak, "Oke let's do it!" hahaha. Begitu masuk gue langsung duduk di row paling depan dan foto muka 4 orang PNS yang lagi duduk di belakang meja resepsionis, salah satu dari mereka adalah mba X yang ngelayanin gue minggu lalu. Akhirnya gue diurus lagi sama dia, disuruh nunggu sekitar 10 menitan, and then gue dipanggil. Langsung buru-buru gue pencet tombol record di hp gue, only to hear she said, "Udah selese mba." Gue tanya, "Oke mba 2 lembar ini aja ya? Udah itu aja ya mba?" Dan dengan sopan dia mengiyakan. Balik badan dan pulanglah gue.

Ya Tuhan....... terima kasih :') Seribu kalimat ngantri pengen gue blog-in segera. Begitu masuk mobil gue langsung berdoa lagi, mengucap syukur ke Tuhan atas kejadian ini. Sepanjang perjalanan otak gue ga bisa berhenti berpikir, mengulas balik semua kejadian dari awal gue ke RT pertama kali. Lemme tell you that every single thing that has happened is now worth it. Meski prosesnya makan banyak waktu, tenaga, dan sempet bikin gue stress dan lain-lain... semua itu terbayarkan detik dimana gue keluar dari kecamatan tanpa perlu bersitegang sama siapapun. Semua itu terbayarkan ketika gue ngeliat senyum di wajah mba X pas dia bilang, "Udah selese mba." Semuanya worth it.

Nyokap, beberapa temen dan sepupu-sepupu gue berulang kali bilang bahwa ga mungkin kita bisa get through this tanpa bayar, bahwa di Indonesia, there is no such thing anymore. I began to waver as I heard those words again and again.. Padahal harapan selalu ada meski kecil; dan benar bahwa perubahan besar pada negara ini dimulai dari hal kecil seperti ini. Bayangkan kalo kita semua KOMPAK menolak membayar, memilih untuk unjuk gigi mempertahankan hak kita sebagai rakyat, gue rasa lambat laun hal palak-palakan ini akan no longer menjadi "wajar lah, namanya juga Indonesia."

I truly thank those who wrote positive feedbacks on my blog post. I thank all my friends yang udah message gue secara pribadi, menyampaikan concern mereka agar gue lebih hati-hati tapi at the same time mendukung apa yang udah gue lakuin. For the past couple of days, dengan orang-orang disekeliling gue kebanyakan menentang dan menyalahkan gue, I began to think that it's gonna be so hard and frustrating to fight like this again. That's why your positive comments and words were very much appreciated because they somehow gave me more strength. I thank my friend Fika, yang meski ga gitu deket sama gue tapi bisa show a big amazing support by sharing this story to Ahok's assistants. Orang-orang seperti kalian yang peduli dan terang-terangan memberikan dukungan, secara ga langsung juga telah membantu mengurangi rasa takut di dalam diri gue. I feel like I am not alone. Karena gimana pun juga gue bukan semacam wonderwoman yang super berani, sometimes many times gue cuma sok berani :p So yea, thank you guys. Cheers.

4 comments:

  1. Selamat ya, Cicil. Saya yakin setidaknya akan ada satu dua orang yang terinspirasi oleh ceritamu ini. Kamu pun sudah membawa perubahan bagi bangsa ini, seberapa pun kecilnya. Dan yang lebih penting lagi, kamu sudah memberikan kesaksian akan imanmu lewat perbuatan nyata.

    P, Singapore.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi P, thanks so much yah! Smoga demikian :)

      Delete
  2. Semoga Indonesia menjadi lebih baik.
    Hal yang salah tidak akan menjadi benar sekalipun semua orang melakukannya.
    Hal yang benar tidak akan menjadi salah sekalipun tak ada yang melakukannya.

    ReplyDelete

Page views.