03 July 2014

6 more days.

Wah, tinggal 6 hari lagi menuju pemilihan umum presiden 2014. Selama ini gue adalah orang yang cukup blak-blakan dalam mengutarakan pendapat dan menyuarakan dukungan gue terhadap calon pilihan gue. Selama beberapa tahun terakhir gue hampir ga pernah nulis Fb status, tapi inilah beberapa status gue recently yang berkaitan dengan pemilu:

2 July 2014:
"Ciri2 pembicara dari kubu Prabowo: 1. Kalo ditanya ga berani jawab, ngomongnya selalu ngeles & muter-muter | 2. Bacotnya cuma berani di sosmed macam twitter | 3. Mukanya pada kayak kuda. Sekian."

29 June 2014:
"Baca share-an orang di timeline Fb, katanya kita butuh pemimpin yang cerdas dan fasih berbahasa Inggris xD Haduh TPID aja kaga tau kok cerdas.. Inggris masih belepotan kaprat kepret ngomong kayak knalpot bajaj kok dibilang fasih.... *Meluk tiang listrik, nangis*"

9 June 2014:
"Prabowo: "Saya sebagai prajurit, yang menilai adalah atasan." >> I see, makanya dulu ngana dipecat? Jokowi: "Mungkin saking semangatnya, Pak Prabowo belum menjawab pertanyaan soal yang konkrit kedepannya apa dan mengenai diskriminasi di masa lalu. Mohon lebih diberi perhatian lagi pertanyaan yang disampaikan oleh Pak Jusuf Kalla." Buahahaha xD ngomong udah muter-muter, kaga menjawab lagi. And please ini someone fired that MC already kthxbye."

And yup that's pretty much all. Hahaha ketauan banget biasa gue cuma berkoar kalo abis nonton debat capres, abis siapa yang tahan sih liat flow yang nyambung-ganyambung, jelas-gajelas itu? Seriously kakak kelas gue di SMA yang ekskul debat bisa ngelakuin 1000% better job dari mereka-mereka.

Anyway gue ngerti kalo di sosmed itu semua orang bebas berpendapat dan berkata-kata, hal ini berarti kita juga bebas mengkritik orang lain tanpa perlu ngerasa bersalah. Selama masa kampanye capres, gue banyak ngeliat tipe orang yang beda-beda di timeline Fb gue. Ada Banyak yang pro Jokowi, ada beberapa pendukung Prabowo yang namanya ga dikenal tapi tiba-tiba muncul di timeline gue karena ada temen gue yang komentar di post mereka, ada orang-orang yang merasa bangga karena cuek, ga berminat, atau bahkan anti politik, dan ada orang-orang baik yang memilih netral.

Nah dari beberapa tipe orang-orang diatas, gue mau ngomentarin si orang-orang baik dan netral tersebut. Anyway gue nulis post ini bukan karena ada orang yang terang-terangan komen negatif di status gue jadi gue tersinggung (mungkin ga ada yang berani juga kali ya hahahaha takut urusan jadi 'panjang' :p), atau bukan juga karena status orang yang gue baca menyinggung gue, no no gue cuma simply mau mengutarakan pendapat aja, that's all :)

Balik lagi soal orang-orang netral, baik sih jadi orang baik itu, status mereka kebanyakan isinya kata-kata bijak semua yang intinya "Jangan menjelekkan salah satu pasangan, lebih baik kita berkampanye secara fair", "Semua calon presiden ada baik dan buruknya...", "Gue heran sama orang-orang yang kerjanya ngejelekin salah satu calon presiden melulu.. memangnya kalo calon pilihan dia menang, dia jadi ikut populer?", "Lebih baik menggunakan waktu untuk hal lain daripada jelekin kubu lain..", dan lain-lain. Bener sih, ga salah. Sedikitpun ga ada yang salah dengan kata-kata mereka.

Tapi kalo ada kesempatan rasanya gue pengen bukain kelopak mata mereka gede-gede sekalian cuciin bola mata mereka kalo bisa. To the point aja begini menurut gue, kalo kedua capres selama ini bermain fair, boleh kita berkata demikian. Kalo kedua capres memang hampir equal kebaikannya, boleh kita berkampanye dengan cara demikian. Lah ini kedua capres bener-bener bertolak belakang, mulai dari sifat, catatan masa lalunya, family background, track record di politik dan kepemerintahan, dan lain-lain. Hampir ga ada garis abu-abu yang overlap di antara mereka, yang ada cuma si A itu hitam, dan si B itu putih. Lalu coba jangan males baca / nonton berita, coba Google berita-berita capres dari awal masa kampanye, liat sebetapa kotor dan menjijikannya metode kampanye yang sudah banyak dipakai.

Gue ga bilang semua itu dilakukan oleh kubu Prabowo ke Jokowi, tapi nyatanya yang hampir selalu kena fitnah dan black campaign siapa, Jokowi kan? Diungkit masalah Obor Rakyat kemarin di Mata Najwa 2 July, kubu Prabowo jawabnya, "Mana sih artikelnya? Saya ga tau." Ngeles paling pinter, ngomong doang di belakang, pertanggung jawaban di depan nol besar. Liat cara kampanye Nazi si Ahmad Dhani yang mempermalukan bukan cuma timses Prabowo lainnya, tapi juga nama Indonesia di mata dunia. Coba liat timeline Twitter timses Prabowo macam si Fahri Hamzah yang akhir-akhir ini dipanggil Bawaslu. Bandingkan bahasa mereka dengan bahasa timses Jokowi. Bandingkan cara mereka menyerang dan mengkritik lawan, coba bandingin baik-baik.

Orang-orang baik macam kalian mungkin akan bilang, "Ya kita ga perlu membalas dengan cara yang sama." 100% betul. Tapi kalo semua orang baik di tanah Indonesia ini kayak kalian, mampuslah si Jokowi kaga bakalan ada yang back up dan belain. Mati sebelum berperang lah dia, karena ga ada mulut-mulut yang menyebarluaskan fakta jelek soal lawan dia, ketika dia sendiri yang sebenernya baik, malah dibuat-buat kejelekannya. Memilih untuk netral lah, bijak lah, baik lah, itu gampang, karena kalian risk nothing. Kalian ga buat musuh, status Fb juga pasti ga ada yang ngedislike atau komentar negatif, pokoknya aman deh. Dan orang-orang seperti kalian ini ga salah keberadaannya, please stay exist, please do. Tapi jangan komplain kalo kalian ngeliat orang lain lebih lantang dan berani menyuarakan pendapat, entah itu dalam bentuk menjelekkan kubu lawan atau ngebagus-bagusin kubu sendiri. Sebagaimana kalian berhak untuk stay netral, orang lain juga berhak untuk menjadi agresif dan melakukan penyerangan. Karena sesungguhnya pun ketika kita memilih untuk HANYA membaguskan satu dari dua calon, secara tidak langsung sebenernya kita sudah menjelekan yang satunya lagi. Ini ga terhindarkan, suka ga suka.

Yah inilah namanya bentuk dukungan, my friend. Inilah namanya masa kampanye. Inilah namanya sebuah perjuangan. Anies Baswedan yang super dewa itu pun dalam speechnya menjelek-jelekan Prabowo, dan hal itu ga salah. Orang yang jelas-jelas nyebar fitnah aja bisa lolos dari hukum, kenapa berpendapat jelek tentang seseorang dan mengutarakannya itu dianggap salah? I think it's completely fair, selama argumen kita ngga menghina atau menyinggung SARA atau hal sensitif lainnya yang bisa memicu perpecahan. Saat ini, detik ini, kita masih dalam pertarungan on going yang sengit melawan oknum-oknum jahat. Mari kita bertatakrama baik, sopan, dan fair ketika Indonesia sudah layak diperlakukan demikian. Mari suatu saat nanti.

-------------------------------------------------------------------------------

Owkay, supaya postnya terasa lengkap, sebagai pendukung Jokowi let me kampanye sedikit buat dia di sore hari yang indah ini: (biar sedikit eksklusif gue pagerin dulu paragrafnya, hahahaha :p)

Gue pun ga completely suka sama JK. Gue ga tau Mega itu beneran oke atau ngga. Tapi begitu liat Jokowi, no doubt remains. Kalo kalian masih ga bisa liat betapa fenomenalnya Jokowi di Jakarta - dan bahkan Indonesia, betapa banyaknya pendukung lantang dari kalangan muda maupun tua yang tahun-tahun sebelumnya buka mulut aja ga mau dan peduli aja ngga, betapa banyaknya volunteer yang bekerja siang malem keluar tenaga dan uang dari kantong sendiri sampe puluhan bahkan ratusan juta Rupiah buat membantu beliau mendapatkan kursi RI1, berarti ada yang salah sama mata dan hati kalian. Jokowi mungkin bukan yang paling bagus di Indonesia, tapi saat ini, di antara dua pilihan yang ada, he's the best choice we have. Kalian suka ga suka, pilih ga pilih, dukung ga dukung, salah satu dari kedua capres ini akan naik ke RI1 dan menentukan nasib kalian 5 tahun mendatang. Dia akan menentukan apakah rumah dan mobil kalian akan tetep kelelep banjir setiap tahunnya, apakah kalian akan tetep dipalak ketika mau ngurus surat ke pemerintah setempat, apakah kalian akan tetep kejebak macet 2-3 jam per hari setiap kali pulang pergi kerja, apakah kalian akan tetep harus berhadapan sama pungli dan preman di parkiran, dan lain-lain. Ga usah kecapean mikirin Indonesia kalo kalian ga segitu pedulinya, pikirin lah diri kalian sendiri. Do some research, baca buku, baca berita, dan baca koran. You'll know so easily which candidate is the best one. Ini hal yang sangat sangat gampang, ibaratnya ulangan, ga perlu belajar 1 jam pun kalian udah bisa tau jawabannya. Kalo preference kalian tentang kepemimpinan adalah perdamaian, kejujuran, dan keadilan, maka layaknya matematika, hal ini pun memiliki jawaban absolut. Let's do this. Do this for yourself, do this for your kids. Membenahi negara itu ga gampang, kalo ga mulai dari sekarang, anak kalian akan menghadapi crap yang sama - or even worse - dengan yang kalian hadapi sekarang. Ayo cari tau, buka mata dan hati, tentukan pilihan, dan mari terlibat.

-------------------------------------------------------------------------------

Untuk beneran ngeclose curhatan panjang lebar ini, please see these amazing quotes by Anies Baswedan:

“Siapa yang akan mengelola uang pajak kita, jika orang-orang baik hanya mau menjadi pembayar pajak yang baik?”

"Jangan ambil posisi diam. Mereka-mereka yang baik itu akan kalah jika orang-orang lain memilih untuk diam."

No comments:

Post a Comment

Page views.