12 February 2015

Jokowi and Ahok, the people we take for granted.

Sigh, belum mulai nulis aja udah berasa cape, cape mikirin gimana harus berargumen melawan orang-orang ignorant yang logikanya dangkal. *Tarik napass.....* *Buang.....* Sempat terpikir mau masukin ke Kompasiana biar banyak yang ngerasa lagi disentil, tapi rasanya bahasa yang akan gue pake bukan Kompasiana-friendly. Anyway if only post kali ini bisa dibuka dan ditutup dengan kalimat, "aduh bego amat sik, sono go eat shit and die" dan semua message gue tersampaikan dengan jelas, I would very much do so. Sayangnya ga bisa. Sayangnya message gue hanya bisa tersampaikan melalui paragraf super panjang (yang probably akan jadi boring bagi beberapa orang) yang mungkin saja mengandung banyak kata kasar dan makian. Kalo kalian don't mind, please proceed.

It's surprising, bagaimana banjir besar yang usually melanda dan melumpuhkan Jakarta setiap 5 tahun kini terjadi lagi dalam kurun waktu 2 tahun. Marah dan kecewalah penduduk Jakarta, gue pun demikian. Kesel, bete, cape, dan muak rasanya tinggal di Pluit - tempat yang harga tanahnya selangit tapi macet dan banjir melulu. Muaklah gue harus angkut barang dan ngobrak-ngabrik kamar untuk make sure harta benda gue terselamatkan sebisa mungkin. Muaklah gue harus jantungan bawa keluar mobil menerjang banjir yang cukup dalem supaya mobil gue ga tenggelem lagi kayak tahun 2013 lalu. Gue pun muak habis-habisan sama banjir.

Tapi lebih muak lagi lah gue sama orang-orang yang bisa-bisanya dengan buta menyalah-nyalahkan Ahok (and probably Jokowi - tapi banyakan Ahok kayaknya) semata-mata karena beliau yang sekarang menjabat jadi gubernur. Jakarta jadi macet, banjir kaga karuan, berantakan kayak sekarang, itu semua akibat dari pembangunan kota ini yang ga terencana dengan matang dari belasan atau bahkan puluhan tahun lalu. Kita yang suwe menuai semua kebobrokan itu. Tapi ada orang yang lebih suwe dari kita yaitu Jokowi dan Ahok; karena mereka adalah orang-orang yang dikejer waktu harus memperbaiki semua kebobrokan itu, siang malem kerja tanpa ada jaminan dapet credit, penghargaan dan acknowledgement, sembari ngelawan sesama pejabat yang ga semuanya supportive, dan tentu saja at the same time menelan maki-makian dari rakyat yang cuma mau tau enaknya aja.

2005, adalah tahun dimana gue pertama kali pindah tinggal di Jakarta. 2014, 9 tahun kemudian, adalah pertama kalinya gue ngeliat ada taman kota yang layak dan besar di tengah-tengah daerah Pluit, tempat dimana kakek, nenek, enci, mba, ibu, bapak, sampe anak-anak dari berbagai kalangan masyarakat bisa jalan pagi, jogging, dan bahkan joget bersama diiringi lantunan lagu China. Ga lama setelah waduk Pluit dirapiin, dua lahan besar di mulut Jl. Pluit Sakti raya yang dulunya dipake berjualan, diubah juga jadi taman yang bagi gue memberi sedikit sentuhan 'manusiawi' untuk Pluit yang padet dan hectic. Lalu menurut kalian itu taman dateng dari mana? Waduk Pluit dateng dari mana? Yang pasti bukan dateng dari jari-jari kalian yang sibuk main Facebook dan update status ngata-ngatain pemerintah DKI sekarang yang kata kalian 'gagal' dalam menangani Jakarta. Bayangkan apabila dulu Jokowi Ahok ga buru-buru memperbaiki waduk Pluit, udah lebih mampus lagi lah kita menghadapi banjir tahun 2015 ini. Mungkin akan kelelep ga ketolonglah anak cucu kalian di masa mendatang.

Ga usah kepo kritik sebetapa arogannya Ahok jadi orang, coba aja kalian disuruh ngurusin kota yang udah semerawut kaga jelas bentuknya begini, masih harus perang politik sama sesama pejabat yang ga semuanya kooperatif dan masih banyak yang korup, not to mention ngadepin masyarakat yang sampai detik ini masih sering ngelempar sampah dari jendela mobil, buang karcis tiket tol sembarangan, dan lain-lain. Ga jadi gila aja udah syukur gue bilang. Seperti layaknya kata beliau, kalo kalian ngerasa lebih pinter, lebih jago memimpin, lebih wise dan berwibawa dari pada doi, majulah jadi calon gubernur tahun 2017. Atau kontribusikanlah diri kalian untuk negara lewat cara lain, jangan cuma sibuk garuk pantat di rumah sambil ngetikin komentar pedes tanpa kejelasan yang masuk akal via Facebook dan sosmed lainnya.

Bayangkan kalo 30% aja pejabat di negri ini bener-bener baik, ga cinta duit, dan berani bahu-membahu melawan oknum jahat, pasti akan lebih mudah buat Jokowi Ahok untuk merubah Jakarta dan Indonesia jadi lebih baik. Mungkin ga perlu jadi jin pun mereka bisa melakukan perubahan yang terhitung instan. Jaman sekolah dulu aja kita kalo berantem sama temen sekelas mungkin kesel dan gondoknya udah ampe pengen ngunyah lambung orang hidup-hidup, gosip kanan-kiri sampe bibir melar segede koran, nyari pendukung dan backingan sampe kemana-mana, gimana Jokowi Ahok yang sekarang ini lagi on going perang politik lawan oknum-oknum jahat dan musuh-musuh dalam selimut?

Dulu banyak orang marah-marah soal pembangunan MRT yang katanya bikin makin macet, bersyukurlah karena paling ngga anak dan cucu kalian bisa hidup di tempat yang lebih baik dari yang sekarang kalian diami. Kalau mau marah, marahlah pada pemerintahan yang lalu-lalu, pertanyakanlah mereka kenapa Jakarta masih begini-begini aja, ketika Kuala Lumpur udah punya KL Central yang gede dan rapinya 10000x kali sistem di Jakarta.

Indonesia ga akan, ga akan pernah bisa maju kalau cara berpikir masyarakatnya masih bodoh seperti ini. Ahok pastilah ga sempurna, tapi paling ngga beliau calon yang terbaik yang kita punya beberapa saat lalu ketika harus memutuskan the next Jakarta's governor and vice governor. Jangan karena satu dua kejadian semua lalu membalikkan badan dari beliau, menuding yang ngga-ngga dan membodoh-bodohi diri sendiri dan orang-orang sekitar.

Gue emang ga bisa mencegah orang-orang seperti itu untuk stop komentar yang bikin mata panas, atau naively berharap tulisan ini akan merubah pola pikir mereka (kalau ada yang kebetulan baca). Makanya selama orang kayak mereka exist, orang-orang macam gue pun akan tetap exist untuk terus membalas dan mengeluhkan, "aduh bego amat sik, sono go eat shit and die."

----- * ----- * -----

Haduh cape ngetik. Biar kaga bingung biar gue pagerin yang cantik dulu topik di atas, coz now secara singkat I want to talk about Jokowi dan drama KPK vs Polri. Gue ga akan nyentuh soal konflik KPK itu sendiri, I will straight forward talk tentang gimana buanyaaaaakk banget orang yang (mungkin ga bodoh-bodoh amat, tapi) sok pinter yang menyimpulkan bahwa rakyat Indonesia telah salah memilih presiden.

1. Untuk orang-orang yang bilang, "tuh kan kalau Prabowo yang naik pasti...." Whatever, kalian bisa ngoceh ngetik panjang lebar, ngomel dari subuh sampe malem sampe subuh lagi; do whatever you like sesuka kalian, karena sampe kalian berubah jadi centaurus, unicorn, atau bahkan malaikat sekalipun, presiden terpilih adalah Jokowi, bukan yang satunya lagi. So go eat shit and move on bitches.

2. Buat kalian yang dengan amazingnya bisa menyimpulkan bahwa, "Jokowi bego.. Digunain Mega.. Ga bisa ngelawan.. Payah..." dan lain-lain, well kalo gitu kenapa bukan lu aja yang jadi presiden? You sound like you're waaayy smarter than him anyway. Padahal mungkin nembak cewe aja you belum becus (no offense untuk para jomblo lelaki di luar sana, dan tidak bermaksud sexist, ga semua yang komen begitu cowo kok hahaha, mau random aza getoh). Tau apa sih kalian soal running sebuah negara? Tentang politik antara musuh, teman, dan musuh dalam selimut. Tau apaaaaaaa? Setau-taunya kalian pun, lebih tau mana sih kalian dan Jokowi?

Lu kate gampang jadi presiden? Lu kate gampang jadi orang baik ditengah-tengah orang yang less-baik atau bahkan pure evil? Udah sukur paling ngga dapet pemimpin yang 'lebih lurus' (bukan maksud nyindir body Pak Jokowi lho ya~) masih juga banyak yang kaga tau berterima-kasih. Di dunia politik Indonesia orang baik itu banyak musuhnya. Ngupil terus meper di pot bunga bundaran HI aja bisa dituduh tindakan kriminal kalo orang baik yang ngelakuin itu (ini contoh loh ya, bukan maksud mau nyindir kasus suap polisi via pot bunga). Ambil contoh soal kartu Indonesia sehat; memang program ini belum sempurna, tapi instead of ngebantu memperbaiki, ada aja orang-orang yang akan komentar pedas tanpa landasan jelas dengan tujuan menjatuhkan. Padahal program ini udah jelas-jelas fungsinya untuk meringankan beban rakyat kecil. Pembantu gue contohnya, tahun lalu pulang kampung seminggu lebih untuk ngurusin anak dia yang operasi usus (kaga tau kenapa, tapi menurut bahasa doi 'usus anaknya pecah' ahaha), begitu balik ke rumah gue tanya, "Habis berapa mba?", jawab dia, "Ga bayar, dibayarin Jokowi." See? Effendi Simbolon once said sesuatu sarcastic tentang program kartu Jokowi, yang intinya he should also make kartu Indonesia masuk surga (bisa baca di artikel sini). Well meski kita sama-sama tau maksud doi ngomong begitu apa, tapi gue ngerasa doi bener juga sih, secara banyak pejabat-pejabat Indo lagi nabung dosa untuk masuk ke neraka, tapi gue doain semoga bapak Effendi yang terhormat ini tidak termasuk salah satu di dalamnya. Moving on.

Konflik sini dan sana, adalah pembuktian bahwa saat ini di dalam parlemen sedang terjadi perlawanan terhadap power jahat yang selama ini berkuasa atas negri kita. Kalo semua adem ayem, ada kemungkinan tandanya semua yang duduk di bangku pemerintahan sedang bergerak ke arus yang sama, sedang menyuarakan pendapat yang sama, sedang mendukung gerakan yang sama, dan kita semua sama-sama tau, bahwa selama ini gerak-gerik pemerintahan kita ga pernah jauh-jauh dari korupsi dan hal lainnya yang merugikan rakyat.

Gonjang-ganjing dalam pemerintahan sudah biasa, US yang maha dewa aja mengalami hal serupa. Yang gue sayangkan cuma betapa masih banyaknya masyarakat Indonesia yang cara berpikirnya sangat dangkal, mudah diprovokasi, egois, maunya enak, maunya instan, tidak peduli pada proses, tidak peduli pada perubahan, maunya tau jadi, dan ya ga bisa dipungkiri, bodoh. Kadang yang tinggalnya di kolong jembatan, yang tiap hari kerjanya nyapu jalanan dan mungutin sampah bisa jadi lebih 'pandai, bijaksana dan terhormat' cara berpikirnya ketimbang orang-orang berdasi yang setiap hari naik mobil dan main internet.

Sejelek-jeleknya Jokowi, dia belum sampai segitu jeleknya untuk dimaki-maki dan diludahi dari dunia maya (atau amit-amit dunia nyata). Dilantik baru kapan, naik jabatan baru sekian lama, mari kita dukung, mari kita percaya. Karena kalo kita ga dukung dan ga percaya sekalipun, tetep dia toh yang duduk di bangku presiden dan memimpin kita? Hati-hati dengan internet dan media, karena ga semua bisa dipercaya. Contoh aja salah satu tv lokal yang waktu itu 'salah itung jumlah persentase vote pemilu presiden tapi 100.1% yakin kalau angka mereka yang paling benar', masih aja kan running seperti biasanya?

Cara licik dan keburukkan orang mudah dilupakan seiring dengan berjalannya waktu. Kasus korupsilah, kecurangan yang bertujuan membodohi rakyatlah, tabrakan yang merengut jiwalah, narkobalah, suaplah, semua lambat laun dilupakan oleh masyarakat, dan unfortunately begitu pula dengan kebaikan dan prestasi pada rekam jejak seseorang. Semua itu bisa berangsur-angsur hilang, ada yang karena tergantikan oleh berita yang lebih panas dan lebih besar, ada yang karena dimakan pemberitaan yang belum tentu terbukti kebenarannya, atau ada juga karena masyarakat sudah terbiasa dibaiki, sehingga orang yang bersangkutan tidak lagi dihargai keberadaannya.

Menurut gue salah duanya adalah mereka: Jokowi dan Ahok,
orang-orang yang usahanya tidak melulu kita hormati,
dan yang perjuangannya tidak melulu kita syukuri.

5 comments:

  1. "Hati-hati dengan internet dan media, karena ga semua bisa dipercaya"
    ^termasuk blog ini teman2 hhahaha.. bercandus cil..

    hahha btul btul btul.. we just want an instant change rite? berharap magically ketika jokowi/ahok naek trus BUSHH!!!! banjir dan macet ilang.. which is ridiculous, emangnya mereka magician?
    well, they say "it gets worst before it gets better" (or sumthing like that)..
    as sucks as it is rite now with all the traffic and all.. i believe we're (slowlyyyy) moving to sumthing better now..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha blog ini cuma keliatan 'benar', tapi tidak berarti...

      Kenapa keliatan benar? Karena KILLIHOOD ADALAH BENAR, BENAR ADALAH KILLIHOOD. Hahaha 100% group pemuja diri sendiri.

      Delete
    2. wehh.. kalo gitu Killihood juga keliatan benar tapi tidak berarti donk T_T
      kita kan benar dan berarti #eaaaa ahahahha

      Delete
  2. Aku ingat saat menulis tentang jokowi ahok, kusebut mereka sebuah revolusi politik indonesia di blogku. Saat itu banyak yang bilang itu hanya omong kosong. Sekarang terbukti bahwa memang membawa perubahan, namun segelitir orang ini memang tidak bisa terima bahwa mereka telah salah, bahwa mereka tidak bisa menerima kehebatan jokowi ahok karena itu berusaha merusaknya dengan isu dan rumor kacangan.

    Kalau orang hanya melihat dari media, tanpa memiliki pehaman dan ilmu sendiri untuk menelaah maka mereka hanya diiring seperti bebek saja.

    Aku heran ketika orang-orang bilang Jokowi salah langkah, telah memilih presiden yang salah dan lain sebagainya. Menurut kacamataku apa yang selama ini Pak Jokowi lakukan itu adalah langkah2 management yang baik dan memang digunakan dalam dunia bisnis. Hebatnya beliau bisa memainkan teknik2 ini di rancah politik. Ya bagi mereka yang tidak paham sepertinya memang sebuah langkah yang bodoh.

    Aku sebenarnya termasuk orang yang antipati terhadap negara, namun dua figur ini memang membuat rasa patriotisme mulai tumbuh dalam dada :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju banget, sebelumnya juga saya ga peduli sama politik. Boro-boro peduli, kayaknya dulu tau nama gubernur Jakarta aja kaga. Semoga makin banyak orang yang lebih 'melek' terhadap perubahan yg lagi dibawa dua org ini, karena mereka butuh banyak support dan bantuan dari berbagai pihak, terutama masyarakat, untuk melawan pejabat2 kotor yg udah lama bersarang bahu-membahu di parlemen.

      Delete

Page views.