09 June 2017

Wedding vendors.

Chaaaa! I'm back :3 gila newly-wed life has been..... tiring, in an amazing way! (Bukan tiring pas malem loh, ahem uhuk...) Hahaha. Gila tiap siang adaaaa aja kerjaan, gue sama sang suami ga pernah bangun siang karena 1. kamar kite panasss, neyjes, 2. kerjaan buanyak man, cuci baju lah, jemur lah, sapu pel gosok wc lah, prepare our own food terus cuci piring lah. Gila sehari gue bisa nyuci gatau berapa banyak. Ini tangan gue kalo dicium dari jarak deket baunya udah kayak bukan bau kulit manusia melainkan kayak kulit duyung. Kena aerrrr melulu.

Anyway sesuai judul post ini, I'll be reviewing all my wedding vendors super honestly. Semoga bisa membantu capeng-capeng lainnya yang lagi blogwalking demi secercah pencerahan duniawi :p

1. Dress - Le Createur PIK

Ok this one. Kalau kalian googling, review dia di Weddingku sangat jelek, and for that reason gue awalnya ragu mau ambil dia. Alasan jeleknya kenapa please head to Weddingku langsung ya. Singkat cerita gue dateng kesana around June 2016, coba beberapa dress, and found one that I like. Tapi karena meritan gue masih lama, gue keliling-keliling lagi lah. Sampe udah mepet banget gue ga nemu lagi yang gue lumayan demen, akhirnya gue ambil juga gaunnya sama doi. Sama seperti reviewer lainnya, I agree ownernya kurang responsive ketika dichat, bisa dibales beberapa hari kemudian, tapi karena gaun gue udah ga gitu ada problem significant (selain kesempitan), jadi experience gue sama dia smooth-smooth aja. 2 bulan sebelum gue merit gue dicall mbanya, disuruh ambil dress gue karena mereka mau ribet pindah kantor (lol kan). Jadilah itu dress udah nangkring di rumah gue dari sejak H-2 bulan, dan karena gue tau mereka orangnya susah dicari, gue males untuk arrange fitting lagi. So dengan carefully ya gue yang ngepasin badan ke tuh baju.

Terus gue minta veil yang polos dan dipinjemin, but apparently hari H menurut MUA dan hairstylist gue, veilnya itu kayak kain meteran yang super kegedean dan dipotong ga rapi. Mereka pun super swt sama bridal ini, gue sih nyantai aja hahaha. Akhirnya sama hairstylist gue digunting veilnya and I was like, "Yea whatever, do it kalo emang necessary." Minusnya sih harusnya hari H ada mbanya yang bantu pakein gown dan steam gown itu biar rapi, tapi mereka ga mau dateng gitu lol. Gue nyantai aja sih, gue suruh orang hotel yang ngesteam akhirnya. Gue pretty like the dress meski ga sampe buanget buanget, and for that I'm gonna give them a 8.5 out of 10 (kalo veilnya bener mungkin 9 nilainya).

Rating: 8.5 / 10

2. Photographer - Tobias Renaldi

Gosh this person. Lucu deh setiap kali gue membahas doi. Dia adalah fotografer pertama yang gue temuin buat urusan meritan, and I remember I told sang suami "I feel like we should just hire him. Gila gue ngerasa ngobrolnya klop banget sama dia! Ada chemistry aja gitu." Haha, ga pake lama kita ketemuan lagi dan akhirnya deal. After that usut punya usut, ternyata doi adalah fotografer yang motoin acara private ultah Ama gue ke-80 tahun 2012 lalu. Ha! Coincidence apa jodoh tuh haha. Gue sama dia sampe sama-sama kaget pas kita find out.

Anyway kalo gue pribadi gue ngerasa Tobias ini more than just a vendor, gue banyak sharing soal vendor lain ke dia (komplain juga ada), dia juga banyak kasih pendapat dia soal vendor ini dan itu and the way they treat me as client itu gimana. Seru deh. Hari H juga gue ga banyak di'ganggu' sama dia, meaning ga banyak diarahin and for that I am super thankful. Karena dari awal gue memang udah request + cerita sampe berbusa kalo gue gamau hari H foto banyak diarah-arahin kayak very staged, gue maunya yang natural aja.

His second shooter however, namanya Putra, slightly a bit terlalu ngarahin in my opinion. Memang tiap fotografer ada stylenya sendiri sih, but I wish Tobias ada kasih tau dia untuk tone it down a little bit. Karena kalo gue yang diarahin si gapapa, I can bear with it, tapi sang suami itu sepanjang shoot sering dikritik 'terlalu kaku' HAHAHA and damn he was indeed. Jadi ada beberapa moment ketika gue lagi hadep-hadepan ama dia dan si Putra suruh dia ono ini, he turned into very awkward dan malah ga natural posisi tangan dan mimik mukanya; karena gue tau sang suami itu ga bisa multitasking, jadi ketika dia diperintah suruh tangannya kesana, bahunya kesini, sembari disuruh looking at me, posing, smiling, dll, dia ga bisa konsen dan ga bisa bener-bener enjoying that moment. Tapi hal ini sepele sih dan gue ga in any way sampe irritated, I am looking forward banget malah untuk liat hasil foto-foto mereka berdua.

Ok back to Tobias. Sorenya kita sempet ke rumah gue untuk foto-foto sebentar, dan meski saat itu langit udah mulai gelap dan ga memungkinkan, si Tobias tetep bela-belain coba beberapa metode supaya photoshootnya bisa berjalan. Malem harinya gue dikasih 100+ photos yang udah diedit biar bisa reliving the moments right away. Man, servisnya te o pe be ge te buat gue. I can't wait to see the rest of the pictures.

Saran gue ke capeng: carilah fotografer yang click dan nyambung like friends ke kalian, they're gonna play a really really important role on the big day, and you should be able to trust them and be comfortable around them fully. I think I am super lucky to have found Tobias.

Rating: 9.5 / 10

3. Videographer - Venema Pictures

Dari sekian banyak videographer di Indo, cuma Venema yang beberapa videonya caught my attention. Menurut gue mereka beda aja. But unfortunately gue ga bisa terlalu banyak komen right now karena gue belum liat hasil kerja mereka. I will give them an appropriate and fair rating once I have seen the preview (will come out in 1-2 weeks.) Tapi dari segi preparation, unlike Tobias (ya ga bermaksud compare juga karena memang beda: Venema kan lebih besar, Tobias perorangan, but I can't telp but to discuss their styles), Venema ini lebih sistemasis in a way that makes you feel like 'this wedding video thingy is a business' while with Tobias gue banyak ketemuan / chatting / ngobrol casual and get to know each other. Kalo Venema, kontek pertama kali sama X, urus jadwal sama Z, baru terakhir-terakhir (less than 2 weeks kalo gue ga salah), gue yang minta ketemuan sama shooternya yaitu Novi. Gue sampe bilang ke sang suami, "Gila si Venema kok ngga nyariin kita ya, nanya kek mau gimana videonya, ada konsep atau request ga?" That's something unfortunate sih menurut gue. Cuma ya suka-suka mereka lah yang penting hasilnya hopefully sebagus yang gue expect :3 hahaha.

Rating: Entar ye

4. Entertainment - Magna Vocens

Ini punya si Morin, kalo ada yang nyari choir gereja, look no more! Gue pake yang 4 orang 4 suara, hasilnya maknyossss! Hahaha. Di resepsi gue ga dengerin mereka sama sekali (karena sibuk ini itu), tapi di gereja suara mereka sih bagus banget and really built the mood. Sesuai suggestion Morin, gue ambil 4 orang biar lebih maksimal, and guys kalau kalian peduli banget sama perayaan yang di gereja, I would suggest the same to use 4 people.

Tapi pas resepsi ada mishap sedikit, jadi gue request ke mereka opening songnya mau dinyanyiin mereka, but my kepo W.O malah puter CD lagu (goblik kan, ngapain gue bayar entertainment kalo opening songnya pake CD, ga ngerti gue... udah gitu si W.O katanya telat pula muter lagunya, berak. More about this W.O later ya, panjang haha). Alhasil hari H gue langsung sadar ini lagunya telat and kinda geka deh momentnya (tapi si sang suami ora sadar tuh hahaha). Harusnya perwakilan dari Magna Vocens ngotot ke W.O untuk do things their way instead of nurutin aja perkataan W.O, karena gue dan sang suami kan komunikasiin request-request kita ke pihak MV, mereka yang harusnya represent gue that moment. Gue lumayan gedeg sih soal hal ini, tapi since udah lewat juga ya it's fine. Meski gue ga denger suara mereka pas resepsi, I truly believed semua lagunya dinyanyikan dengan bagus. Top deh kualitas penyanyinya dijamin! (Bukan promosiin temen loh ya haha)

Rating: 8.5 / 10

5. MC - Om Leo (Magna Vocens)

Ini sekalian diurusin Morin. Bae super sih si Om Leo, kita ketemuan dulu, ngobrol ngalor ngidul, get to know each other, gue cerita sedikit juga soal gue dan sang suami, so yea I don't really have anything to say except it all went well. Thank you MV & Om Leo!

Rating: 8.5 / 10

6. Catering - Mutiara Garuda

Duh duh mba Hanna ini top 3 vendors kesayangan gue pokoknya. Orangnya ruamaaah buanget, sabar buanget, helpful buanget. Gue test food sampe 3x coba ya.. Hahaha. Hari H pas resepsi gue sempet makan dikit karena kelaperan, duduk di tengah-tengah guest lainnya, sakti ga tuh coba. Hahaha. Tapi karena hari itu cape, gue ga nafsu makan, jadi cuma makan untuk nahan laper aja. Di lidah gue sih aga asin ya makanannya, tapi according to keluarga gue dan keluarga sang suami, overall oke dan banyak yang bilang enak. So yeah gitu lah. Yang gue bener-bener suka pas test food dan hari H adalah: lidah lado ijo (juara ini!!!) dan balinese grilled chicken. Sate lilitnya doesn't suit my taste unfortunately, dan yang lainnya gue ga sempet makan :(

According to my friends who LOVE to eat: lidah lado juara, empal gentong enak abis, balinese chicken sadis (hahahahahah ini pemilihan kata-katanya dari gue makanya lebay.) Ya intinya menu-menu tersebut yang menonjol lah ya.

Rating: 8.5 / 10

7. Decoration - Maeera Decoration

This gue a bit bittersweet. Jadi request warna flowers gue yakni 'majority putih dan hijau, dengan sedikit sentuhan peach' eventually ga diturutin. I believe mba Galuh (ownernya) pasti punya her own reasons, cuma I was still disappointed karena rangkaian bunganya gue ga suka. Oh ya semua komplainan di blog ini ga ada yang gue sampein ke vendor yang bersangkutan (kecuali MV) karena toh acaranya udah selese, I am merely typing this to help other people aja yang kebetulan lagi cari inspirasi, karena gue dulu pun begitu, blogwalking ampe bego. Hahaha.

Terus hiasan meja VIP juga ga sesuai sama yang udah gue discuss sama dia, mungkin miskom, mungkin she thinks it's ok to do it her own way, tapi buat gue terlalu plain, way too plain. Jadi meja VIP itu gede, warna coklat, udah rustic dengan sendirinya, gue minta simple aja, cuma dikasih table runner di tengah dan di atas runner itu ada daun dan rangkaian bunga, boleh dikasih hiasan kayu atau apa kalau ada. Request gue udah jelas, disertai dengan gambar dari internet dan penjelasan, dia udah oke so I thought she knew, tapi ternyata keluarnya beda. Hari H cuma ada runner tok warna coklat kayak karung goni gitu (runnernya sih lucu dan cocok dengan temanya) dan 2 pcs (kalo ga salah) coaster kayu yang di atasnya ada rangkaian bunga. Meja itu persegi panjang, dan sisa space lainnya kosong, ga hidup, ga ada warna ijonya sama sekali. Ini aga a big turn off sih.. Gue bener-bener expect more dari Maeera tentang hiasan meja. Even sang suami aja yang orangnya ga banyak komen bisa bilang pas hari H kalau mejanya kosong banget. Ngoaaaa :'(

And then sebelum deal sama dia kan gue emang udah browsing her instagram page, udah tau stylenya gimana, gue bilang ke dia untuk backdrop gue mau yang kayu-kayu kayak gini (gue tunjukin contoh dari recent works dia), but I was surprised begitu gue liat format panggung gue yang plek sama persis dengan kerjaan dia yang lain. Kayak totally mirip banget aja gitu dan ga ada yang special dong jadinya for each bride and groom? Terlebih lagi rangkaian bunganya warnanya rame banget ada pink, ungu, blablabla, padahal gue requestnya apa. Mungkin bagi dia permintaan gue juga kurang bagus sih I don't know, ya namanya orang art, hahaha tiap orang punya selera kekeuh masing-masing kali ye.

Tapi on the brighter side, gue denger dari vendor kue kalau mba Galuh ada bantu nyumbang fresh flowers untuk dihias ke bunga karena vendor bunga gue apparently didn't provide decent flowers for the cake (according to vendor bunga gue). Hahaha nah loh pusing ga bacanya. For doing that I am grateful karena mba Galuh mau bantu vendor lain di hari H demi lancarnya acara keseluruhan.

Terus hiasan foto juga hari H berubah tempat. The only gallery that I have ended up di gantung bermeter-meter tingginya dan ga mungkin bisa dilihat orang. Cuma soal ini kata sang suami kayaknya ada larangan dari pihak gereja, dan Maeera ga sempet confirm sebelumnya jadi hari H mereka baru tau kalau ini itu ga boleh, so they had to change plans.

The best thing about her work yang gue bener-bener demen dan sesuai dengan taste gue adalah gate flower di depan tangga yang warnanya cuma putih dan ijo. Thank God itu disesuaikan dengan request gue.. hahahaha. Untuk foto-foto sori ga gue upload disini ya karena belum ready, ntar di post berikutnya pasti gue upload.

Tapi oh tapiiii, menurut nyokap sang suami, om & tante sang suami sih pada bilang bagus (ya secara orang Cenes jaman dulu mah jarang liat decor rustic begini, gimana kaga bagus dalam ati gue hahahaha.) Dari kel gue dan temen-temen ga ada yang komen satupun, hahaha gatau apa mereka emang simply cool aja or not really paying that much attention.

Rating: 6.5 / 10

8. Hand bouquet - Flora Cordis

Ownernya namanya Jessica, she's one sweet kid. Bener-bener kalem, manis, sopan, you name it. Sangat mendengarkan mau gue apa and selalu berusaha sebaik mungkin memenuhi keinginan gue. I really love her work on my floral headpiece. Unyu banget! The hand bouquet however, cakep sihhh, tapi too bad pas hari H itu masih kempes kuncup semua :( aduh sedihnya. H+1 abis gue merit baru pada ngebloom and peony nya anjir bagus banget. Awhh too bad banget. Gue udah sampein ke Jessica juga soal hal ini.

Terus another unfortunate things, seperti yang udah gue bahas di atas, menurut vendor kue gue, bunga yang dia terima dari FC yang akan digunakan untuk ngehias wedding cake itu datang dengan keadaan dibungkus plastik ga jelas, jadi udah pada layu lemes dan jelek. Gue ga tau ini packaging dari FC atau kesalahan W.O sebagai perantara (probably the latter, but I didn't ask.)

Rating: 7 / 10

9. Wedding cake - Lomunar

Ini punya temen gue juga si Monic. Dari segi rasa jangan ditanya, dijamin oke! Haha gue minta simple wedding cake terus dihias bunga. Monic dengan baiknya minta mba Galuh dari decor untuk provide her a fresh batch of flowers buat hiasan di cake karena dia gamau cake gue jelek (baca cerita di no. 8 ya). Thanks so much Mon. She didn't have to do it tapi dia memperjuangkan itu supaya gue dapet yang terbaik dari yang terbaik <3

Oh ya she has been making cakes dari jaman kuliah dulu, dan cake dia beneran truly enak. Googling aja ya Lomunar for more info.

Rating: 9.5 / 10

10. Make up Artist - Stephanie Elysia

Ok so being a very last minute bride-to-be, gue pun baru mulai kontekin, DP-in, and deal-in vendor kurleb H-2 bulan (except Tobias, udah dari berbulan-bulan sebelumnya). Nah the moment gue kontek Melia (meliyabi ig nya - temen tarq dulu sekelas sang suami), dia udah taken. Jadilah gue suruh dia rekomen MUA ke gue and she mentioned Fany. Boom, langsung deal ga pake cari lagi. Hahaha enak ya jadi bride-to-be kayak gue wkwk.

Si Fany awal-awal dichat bisa bales setiap 2-3 hari sekali haha. Gue ga pernah panikan atau nguber, santai aja, cuma a bit kuatir apa dia akan on time on D day. Turns out she's very on time. Anaknya manis, bae, mau bantu gue ini itu sebisa dia, dan nyokapnya juga super helpful! (Nyokapnya ini yang nemenin dia kemana-mana.) Soal make up honestly gue ga ada preference kecuali alis. Gue ga suka yang tajem ampe kayak bisa dijadiin pedang buat nusuk orang. In my opinion, alis should be like.. ya alis.. aga berantakan dikit. Tapi teteup dibuat rapi sih haha cuma sama Fany di-adjust supaya ga sampe tajem banget sikunya. Kalo soal yang lainnya sih jujur gue apa aja oke, I couldn't even differentiate juga make up model A vs model B, tipe bridal make up di Indo almost the same semua menurut gue. Cuma kata sang suami make up gue hari H dia suka sih, katanya mata gue bagus kayak dolly dolly gitu lol, which surprised me soalnya dia bukan tipe yang suka komen hal begituan.

Rating: 9 / 10

11. Make up Artist mothers - Anastasia Jeanice

12. Make up Artists bridesmaids & sister - Yenny Yang

Aduh soal MUA MUA jujur gue aga no komen hahaha. Di mata gue oke-oke aja semua. Pardon ya xD karena gue ga gitu interaksi sama mereka, I won't give them any rating. Soalnya takut judgement gue ga bisa dipercaya gitu. Kata temen gue sih bagus-bagus aja so yea overall should be ok kok semuanya.

13. Bridesmaid dresses - Sisterhoodlife

Ya oke lah so so, model begini kayaknya emang lagi banyak ya. Aga kepanjangan sedikit menurut bridesmaid gue, tapi bahannya oke. Ini juga ga gue kasih rating lah ya since gue ga nyobain make lol.

14. Invitation & Souvenir - Peekmybook & Rumacoffee!

Hahaha lucu deh idenya sang suami, suvenir kita body scrub gitu. Yang interested please head to peekmybook.com for stationery and rumacoffee.com for coffee scrubs! <3

Rating: 10.000 / 10.000 :p

15. Wedding Organizer - Fedora W.O

*Tarik napas...* *Buang...*
Ok where do I begin.

CP nya namanya Yudi, so I will mainly talk about him. Pake point aja ya biar lengkap dan maknyus bahasnya:

1. Pertama kali ketemu presentasinya meyakinkan, orangnya keliatan serius and get the jobs done. Unfortunately, beneran serius banget, sampe kelewat serius malah. Jadi draft rundown pertama yang kita discuss, matrimony jam 10-12, resepsi mulai jam 1. In between catatan sipil dan tepai dulu. Tapi karena satu dan lain hal, akhirnya jam resepsi kita majuin ke jam 12 dengan pertimbangan in real life entar guest akan nunggu max sampe setengah 1, which is still ok, jam 1 teng bisa mulai makan. Karena kalo resepsi gue tulis mulai jam 1 di invitation itu guest akan kelamaan nunggu dan malah jadi garing. Pas di chat doi oke oke aja, nah tapi begitu hari H techmeet sama semua vendor, tiba-tiba dia kaget denger gue mau majuin jam resepsi, dia bilang jamnya jadi mepet kalau begitu, lalu mempertanyakan gue di depan semua vendor dengan pertanyaan ini "Ini ga ada waktu makan. Kasian crew yang lain, mereka ga akan sempet makan siang. Dan kalau ga makan kerja mereka biasa ga akan konsen loh kerjanya. Gimana?" Gue and sang suami sampe cengo ga bisa berkata apa-apa.. saking kagetnya seolah-olah semua kesalahan diblame ke kita, bukannya diskusi gimana enaknya, dia malah lempar pertanyaan begitu ke gue. Tobias sampe ngebela gue dengan bilang "gapapa soal makan kita sudah biasa." Setelah selese techmeet salah satu vendor sampe bilang ke gue kalo yang dia omongin ke gue itu ga etis dibahas di depan vendor lain. Exactly. Enek banget. Dia masih keep questioning gue sampe gue bilang di depan semua vendor, "Ya jam di undangan udah terlanjur seperti ini Yud, kita harus kerja sama do our best untuk make it work." Malah gue yang harus ngingetin dia tentang team work coba!

2. Pas techmeet the way dia ngebuka meeting juga super duper kaku. Suasananya sampe ga enak dan doi sempet terlibat debat aga alot sama vendor lain, gue sampe krik-krik banget gatau harus gimana. Jadinya gue sama sang suami diem aja deh sampe mereka selese debat haha. Emang pembawaan dan cara komunikasi dia kurang enak sih.

3. Case ketiga, di rundown awal bride bangun jam 3 pagi, make up ampe jam 6, lalu prosesi di hotel sampe jam 9. Jam 9 jalan ke gereja untuk matrimony jam 10. Nah around 2 weeks before hari H, gue ketemu MUA gue and gue tanya ke dia dengan rundown demikian bisa ga kalo gue bangun jam 4 aja. MUA ok, Tobias sebagai fotografer juga ok, kalo ada enough waktu kita bisa beauty shoot, kalo ga ada bisa foto di gereja aja, jadi no problem. Tapi begitu gue bilang ke Yudi gue mau mundurin jam bangun supaya bisa tidur lebih lama, dia langsung chat gue panjang lebar nanya, "Yang kalian permasalahin dari rundown awal tuh apa?" Dia chat mengutarakan betapa seolah-olah plan dia in the first place adalah yang the best yakni bangun jam 3 dengan plenty of time cadangan untuk ngaret, makan, foto. Pendapat dan keinginan gue and sang suami didisregard. Sang suami akhirnya balas dengan panjang menjelaskan baik-baik kalau bride and groom ingin istirahat yang cukup karena acara kita dari pagi - malam (setelah resepsi selese kita masih ada acara foto dengan fotografer di lokasi lain.) Hadeh. At that point gue udah ga mau bales chat dia lagi sama sekali.. Haha konyol aja sih menurut gue hal beginian aja pake drama chatnya. I mean harusnya dia bisa ngerti dong kalo gue sama sang suami perlu istirahat lebih aja and that's our request. Respect it and help us make it work. Kalaupun menurut dia ada masalah (menurut dia loh ya, belum tentu masalahnya beneran ada) ya bisa didiskusiin baik-baik bukannya ngechat dengan kata-kata ga enak begitu.

Fyi akhirnya hari H kita mulai jam 4 and everything works beautifully! Resepsi juga mulai 12:30 teng, everything just nice deh seperti yang udah gue bayangin. Si Yudi ribut-ribut takut mepet, hari H juga gue ended up ngebuang 15 menit nunggu di lobby hotel karena dia salah kira mobil pengantin lain sebagai mobil gue. Even thou like that masih keburu toh? Jadi komplainan dia di awal pas gue mau mundurin jam make up itu simply ga berbasis dan nyebelin aja.

4. Hari H juga doi ribut sama Monic. Memang gue belum denger versi Yudi gimana, tapi sumpah banyak banget vendor yang komplain about doi. Jadi yah gue believe lah dia memang bermasalah hahaha. Gue sampe ga enak sama semua orang yang komplain, I can only say, "Emang gitu orangnya." Hahaha.

5. Pas meeting sama dia beberapa minggu sebelum hari H, gue bilang ke dia nci gue request foto dengan bride & groom dan mertuanya setelah misa matrimony karena mertuanya bakalan keluar kota dan ga bisa ikut resepsi, instead of noting my request, dia malah jawab "Kalau keburu ya." Gue bilang "Ini saya request Yud.. jangan kalau keburu.." baru dia dengan serius ketik di rundown dan nambahin catatan request tersebut. What the.

6. Mishap soal CD lagu diputer di opening resepsi juga ngeselin.

7. Hari H juga menurut fotografer gue dia aga ngeburu-buruin orang terus, padahal ada satu moment gue sama sang suami lagi nangis terharu pas pertama kali banget ketemu dan saling liat-liatan. Gue ga sadar sih si Yudi ngeburu-buruin, tapi Tobias bilang dia kasih cue suruh cepetan move forward gitu. Pret.

8. Pas meeting sama sang suami, dia berkali-kali suka ngomong gini, "Bener ya ini gapapa ya? Soalnya biasa keluarga komplain. Nanti komplainnya ke saya" dan kalimat-kalimat sejenis itu pas ngebahas soal rundown. At one point gue akhirnya ga tahan dan gue bilang, "Ya Yud kalau pun ada keluarga yang komplain ya no hard feeling aja. Namanya juga banyak ibu-ibu dan bapak-bapak Chinese." Dia langsung cengengesan ngomong, "Ohh nggaaa, kita mah biasa ditegur. Ga akan hard feeling." Tapi kerjaannya ngoceh begitu mulu ke gue, lah cemana?

Long story ga bisa short, W.O ini ga banget. Sampe terakhir selese resepsi gue udah ga ngobrol apa-apa lagi, cuma say thank you and bye-bye bubar. Gue malesssss untuk bahas semua komplainan ini, karena toh buat apa, udah selese juga acaranya, plus orangnya keliatan banget keras kepala dan ga suka terima suggestion / advice orang lain. Well Fedora if any of you read this, so sorry but I am normally this honest.

But seriously, pada saat preparation gue sama sang suami udah cukup banyak kepusingan, we don't need other people to add more stress to us. Yang harusnya bantu malah nyecer dengan bahasa ga enak. Pret banget, ga habis pikir gue. Tapi overall hari H gue smooth banget sih ga ada kesalahan yang sampe parah banget.

Rating: 3 / 10

-----

Ok that's it! Kalo ada update tar gue tambahin lagi ya. Semoga membantu guys <3 Kalo ada capeng yang mampir, selamat preparing semoga lancar jaya sampai hari H dan juga setelah lewat hari H :)

Ps: GILA AWKWARD BANGET KETIK 'SANG SUAMI' HAHAHA. Bertahun-tahun referring to him as sang pacar, sekarang harus cari panggilan baru and it's kinda killing me.

Pss: wedding photos gue belom ready ngoaaaaa :'( padahal pengen mengabadikannya di blog asap kalo bisa ga jauh-jauh dari tanggal 3. Oh well.. Besok gue pergi honeymoon sampe akhir June, die lah haha. Alright, see you all soooonnn! I'll be back in 3 weeks <3

05 June 2017

Hello from the other.. home.

5 June 2017, 7:15 am.

I woke up at 4 am today, not because I was anxious about something or too tired to sleep. In fact, my body ached and craved for a good night rest so so much. I woke up because someone who slept beside me snore really loud.

Yes, I have married that guy I have been mentioning here as 'sang pacar'. Guess he'll be mentioned as 'sang suami' from now on :)

So here I am, at 7 in the morning, sitting in my pajamas in the dining room, wearing tiger facial mask, alone, typing as enthusiastic as I could, 'cos God knows how much I have missed writing and talking to myself, through this blog.

I have missed it so.. so much.

These past few months have been really rough for me. I have lived in constant stresses, trying to juggle between (super) abandoned work, marriage preparation, and house's renovation. I dealt with depression - things that were so hard to being discussed to - if not to your closest ones who truly understand you and whom you deeply trust. I have tons of things I want to talk to, and I will soon. Marriage preparation, for me, wasn't a pretty thing. But it's a crazy & beautiful experience nonetheless, and I would love to share my honest feeling and story here.

I can't wait to review all my wedding vendors as well!! And last but not least, my new house! Oh, it's simply the new love of my life. I can't wait to show you guys its pictures, I will soon I promise.

This post has a pretty gloomy opening, but still, please enjoy a couple of my wedding pictures (which are all in bw, and look pretty dramatic & gloomy - in a good way! - as well hahahaha). I will definitely be back soon to upload more pictures and talk more about it <3






16 May 2017

In a blink of an eye.

Berhari-hari even berminggu-minggu buat hiasan bunga warna biru buat backdrop sangjit, gantian udah dipasang rapi di ruang tamu Sam asked me this:

S: What is this for?
C: Buat something cute.
S: Buat apa sih Soyie bunga-bunganya? It looks kinda useless.
C: ...

*Jleb*

Sam.. in a blink of an eye you have inherited your mother's frozen heart.... why so fast, why.

22 April 2017

April 19th.

April 19th was an extreme roller coaster ride. I was taken up and high, passing trees, heading to the sky, but before I could really enjoy the view, I was slammed down back to the ground.

I refreshed my browser page every once in a while; anxiously hoping for a glimpse of hope. When the number didn't begin to change, I knew it's time to accept the lost.

I looked back, and my heart sank deeply to the bottom.

It's not the thought of losing that made me sad. Those players and new leaders didn't make me waver. The noise from surrounding didn't lessen my spirit. All the efforts and energy spent during these past few months didn't leave me a single regret. But it was the people of this city that left my heart scarred.

At the end of that day, in this very place I call home,
disunity won.

12 April 2017

Mimpi (buruk) di siang bolong.

Lagi nulis agenda sambil nonton video Youtube lipstick di refurbish, tetiba nyokap masuk kamar. Gue pause lah videonya pas screennya lagi zoom in close up beberapa lipstick yang warnanya pink and nude (jadi gambar di layar aga kurang jelas itu apaan).

Lalu terjadilah percakapan ini:

N: Nonton apa tu?
C: *Diem aja cuekin dia sambil continue writing stuffs*
N: Itu.. orang telanjang ya..?
C: *Keselek amandel sendiri* Apaan? Ini video lipstick, gila orang telanjang... *play the video for her to see*
N: Oo...

*Wes ewes ewessss* (Samar-samar terdengar suara kelegaan hati dia)

Hahahah x"D

06 April 2017

Melted.

Percakapan kemarin malem with Sam:

(I was working, dia disamping gue main clay)
S: *Tiba-tiba* Soy ie, itu di luar ada cupcake ya kalau Soy ie mau makan. Enak loh.
C: *Awwh melting...* Oh iya mami beliin kamu ya? Oke thank you ya sayang.

Awhh <3 bisa tiba-tiba inget nawarin gue gitu. Such a sweetheart.

05 April 2017

Del Mon Tea.

Percakapan sama Nilam barusan abis makan:

C: Nilam ini siapa sih yang suka beli (sambel) Belibis?
N: Ama.
C: Oh, ga enak.
N: Iya enakan lemon tea itu kan.
C: Hah lemon tea apaan.
N: Itu yang non suka, monti monti itu..
C: Del Monte?!
N: O DEL MONTE! Hahahaha

:') Lemon tea kata doi.. :')

29 March 2017

Kind of people.

Some people can be very selfish
Their happiness comes first
Their feeling matters the most
God
Am I being one of those people?

Some people often get lost in life
They are blinded by the unimportant
They focus on the wrong things
God
I don't want to be like those people

People can be very mean
They love without understanding
They care without paying attention
God
I am afraid I'll cross that line

20 March 2017

A whole new world.

HAHAHA lebay yeee judulnyeee. Ini hanya post belaka untuk mengabadikan momen pertama gue pake softlens koqqqqq :* hahaha

*Dilempar kulit pisang sama penonton* *tapi langsung menghindar ala matrix* eaaa

Ora penteng.

Anyway percakapan gue dan sang pacar kemarin (Minggu 20 Maret 2017):
C: ... Gila Ej... God bless softlens and its founder...
F: Kemarin kata lu ini "shitty invention"?
C: Ahahaha khan itu kemarin~~ *Pukul-pukul dada Ej dengan manja*

>.<


19 March 2017

Jadikan hatiku istana cintaMu.

Siapakah aku dihadapanMu Tuhan
Kau curahkan cintaMu
Apakah artiku bagiMu
CintaMu setia selalu

Pantaskah ku menyambut tubuh darahMu
Karena banyak dosaku
Sering ku ingkari cintaMu
Dalam langkah hidupku

Ampunilah aku, ampuni kelemahanku
Ampuni dosaku dalam kerahimanMu
Agar ku mampu wartakan kasihMu
Di dalam hidupku

Bersihkan hatiku dengan sucinya cintaMu
Jadikan hatiku istana cintaMu
Tempat yang layak untuk bersemayam
Tubuh dan darahMu

09 March 2017

Steps.

What good things will come from complaining?

I spent a lot, and when I say a lot, I mean SUPER PLENTY of times complaining and feeling meh when preparing my upcoming wedding. I overthink everything from the smallest stuffs to the big and serious ones.

I am tired listening to myself whining, and I know my closest friends and (especially) bf are too.

But I am blessed, because God and bf love me no matter what. Because I always have one or two pairs of ears who are ready to listen when I need to talk. I always have a shoulder to cry on when I need to recharge.

One special thing happened during my lowest and most emotional moment. We spent so much money these past few weeks (we have just started preparing things nowadays, so the expenses were suddenly crazy) and sometimes in my mind, I found it strange that after all of those spendings, I still have enough balance in my bank account. Despite feeling a little bit confused, I didn't pay more attention to it until about a week ago.

I was checking something and only then realized that in January I have sold Peekmybook a lot more than what I used to sell in the previous months, hence the 'healthy' bank account. I looked at my laptop's screen in disbelieve, and I realized that God has always been watching. He's there, and he's helping me all the time.

So I tell myself. It's ok, do it one step at a time.
It's gonna pass and it's gonna be okay :)

04 March 2017

Beti.

Percakapan barusan sama nyokap di telpon:

C: Halo, Ma?
N: Ya.
C: Tolong bawain ini pulang dong dari toko. Eh bentar. *Nanya ke sang pacar yang ada di sebelah gue* Glue gun bahasa Indo nya apa ya?
N: *Tiba-tiba nyamber* Mentega?
...
C: Haha bukan itu mah blueband!

X'D

27 February 2017

Cicilan Turing strikes again.

Percakapan sama penjual kitchen sink 2 hari lalu:

At this moment gue udah masuk toko dan nanya-nanya, while sang pacar masih parkir.
X: Cari apa nci?
C: Cari kitchen sink.
X: Oh disini, cari yang satu sayap apa gimana?
C: Iya satu sayap. 
X: Nih yang merk ini udah dari Korea, harganya sembilan setengah.
C: *Langsung ga santai* Gila! Kemahalan ko!
X: Oh.. *Reaksinya kaget* Hmmm kalo ga yang ini? Empat setengah.
(Ahem gue emang refleknya lebay juga sih kayak langsung setengah tereak getu.. Lol abis sumpah gue kaget denger harganya.)
C: Masih kemahalan ko, saya mau yang murah aja. Budgetnya dikit. Paling 2 jutaan.
X: Hah, 2 jutaan....? *Ngeliatin gue bingung*
C: *Ngeliatin balik, ikutan bingung*
X&C: *Liat-liatan, bingung-bingungan for like 3 seconds...*
C: *Otak tetiba nyambung* Ya ampun!! Tadi sembilan setengah maksudnya sembilan ratus ribu?! Saya kira sembilan setengah juta!!
SATU TOKO BESERTA MAS-MASNYA: *NGAKAK KAGA SANTAI SAMBIL NGOCEH-NGOCEH YA AMPUN NCIIIIII*
C: *Salting* Hahaha!! Maklum kaga pernah beli barang buat rumah!! Ini baru pertama kali! Ahahaha!! Pantesan kaget gua masa sembilan setengah juta mahal amat!!

._.

Terus ga lama sang pacar masuk, gue baru cerita setengah dia udah nebak, "Pasti kamu kira 9 juta? Gila kamu si sering banget ga nyambung. Mana mungkin semahal itu."

HAHAHA eeq.

Ps: udah lama ga ngepost, berkualitas ya update-an gue. Hahaha :*

20 February 2017

MRT.

Gila gila kayaknya I've never been this absent from this blog before. Cumpah I've been very busy lately ngurusin meritan (urgggh). Btw have just finished MRT (dulunya disebut KPP) Sabtu dan Minggu kemarin, and here's a couple of answers that I'd like to share :)




Awwww look at that cute pic on the left page, haha niat banget gue ngisi nih buku. I used colorful pens, highlighter, and even bookmarked the book!

Tangan gue sampe pegel & sakit banget 'cos I wrote long & sincere answers and I took every question seriously.




I learned a lot deh from this MRT, meskipun honestly banyak sesi yang aga boring ahaha. Btw pas pertanyaan apa itu cinta, gila gue ga tau mau jawab apa! Gue sampe oret-oret jawaban gue, dan akhirnya gue left it hanging ga jelas gitu. Hahaha :/ tumbenan bisa ampe speechless gini. Anyway ini jawaban sang pacar:

Awwwhh, gila puitis abis bok bagian "walaupun terkadang menyakitkan". Hahahaha xD
Point no 2 nya sweet banget :')


Tapi jangan bangga dulu Ej, I'm about to spill your kebusukan as well. Banyak point-point yang doi jawabnya teoritis ngikutin slideshow di depan gitu kayak ini:

Aww point no 3: something that I always remind myself about. Ga cuma dalem hubungan sama bf,
tapi juga dalam keluarga dan pertemanan, I really think saying those 3 things is very important.

Hahaha najis kan point no 1 & 2 nya cuma jiplak slideshow dan buku.


Gue banyak catet quote (atau kadang digambar) dari pembicara di depan yang menurut gue bagus. One of my fav is this one:



Seru dan lucu sih MRT ini, pertanyaannya lengkap dari yang sepele sampe ribet-ribet such as keuangan dll. When being asked about house chores, task, or duty, me and bf pretty much answered the same thing :3

Haha the last one: 'cos I really really hate driving (alone). Kalo ada temennya much better.


Hahaha gue suka iseng ambil buku dia terus gue tulisin komentar, eh doi juga gituin buku gue.
Bandel banget jawabannya: "sayang, bukan genit" awwh, I'm so blessed <3


Masih banyak part yang menarik, dan salah satu highlightnya adalah part ini. Gatau kenapa, gue so emotional sampe nangis baca surat doi. Terus air mata gue ditandain coba ya sama sang pacar -.- grrr hahaha. Kayaknya pasangan yang lain jawab cepet banget... sedangkan gue sama bf nulis ini luamaaaa banget, and every time I read our letters I can feel it that we wrote them from our hearts.




Semoga pelajaran-pelajaran yang gue dapet pas MRT kemarin bisa membekas dan kita berdua inget selama mungkin. Kemarin habis dengerin seorang pembicara ceramah soal hidup perkawinan, I summarized her words and wrote this on the corner my book as a gentle reminder and encouragement...

When things get hard
Do not give up
Do not stop
Finish the race
Our Father promises us
He'll be there to support us

01 February 2017

Horrifying experience pembuatan e-paspor di Kanim Bandara Soekarno Hatta.

Horrifying experience ketika membuat e-paspor di Kantor Imigrasi Kelas 1 Bandara Soekarno Hatta kemarin, Selasa 31 Januari 2017. Kalau kepanjangan bisa langsung scroll ke bawah, bagian yang hijau adalah puncak permasalahannya.

C: Gue
F: Freddy

Total gue nunggu di luar gedung adalah 3 jem sebelum akhirnya masuk gedung untuk antri lagi ngambil nomor antrian wawancara & foto. Total gue nunggu sebelum akhirnya masuk ke ruangan wawancara adalah 7.5 jam. Selama 3 jam ngantri outdoor, ada beberapa orang dan even 1 bapak-bapak marah besar, komplain dan ngamuk ke satpam yang tentu saja lebih galak dari kita-kita semua. Orang-orang berkerumun ngevideoin bapak-bapak yang marah itu, frustasi karena kehujanan dan melihat lambannya pergerakan antrian. Sesaat sebelum gue masuk ke gedung, karena ada ibu-ibu lain yang kasak-kusuk komplain di belakang, terdengar suara di speaker yang menghimbau pemohon untuk "tidak membuat keributan atau provokasi, atau kami berhak menghentikan pelayanan." Miris, padahal harusnya petugas mendengarkan keluhan pemohon, bukan menshut-down komunikasi. Yah mungkin beginilah majority (majority loh ya, bukan semua) birokrasi di Indonesia, anti kritik, dan sudah melupakan cara untuk beramah-tamah dengan rakyat. Nada si satpam selalu lebih kencang, lebih tinggi, lebih marah dari orang-orang yang mengantri. Tapi apalah arti menunggu 7.5 jam, dibanding pengalaman yang terjadi setelahnya. Gue lebih mending disuruh tunggu 7.5 jam x 3 daripada harus mengulangi kejadian kemarin, something yang sampai detik ini masih terngiang-ngiang di kepala gue, dan adegan-adegannya terputar-putar ulang tanpa gue kehendaki.

Setelah masuk ke ruangan wawancara, gue dilayani oleh Ibu E, dia nanya:
E: Mau paspor berapa halaman?
C: 24.
E: Mending saya saranin 48, daripada takut visanya ditolak.
C: Oh ok.

Disinilah kesalahan nomor 1 gue. Luput dari pikiran gue untuk konfirmasi kalo gue mau dibuatin e-paspor bukan paspor biasa, tapi entah kenapa di benak gue saat itu I was assuming dia udah tau. Setelah gue keluar dari ruangan itu, slip di tangan gue nunjukin pembayaran untuk paspor biasa 48 halaman (355.000). Masuk lagi lah gue, bilang:

C: Mba ini saya mau e-paspor.
E: *Langsung judes banget* Ga bisa! Ibu tadi saya tanya mau paspor atau e-paspor jawabnya paspor biasa!
C: Saya mau e-paspor kok dari awal.
E: Ibu, Ibu tadi saya tanya jawabnya paspor! *Dikatakan sambil tetap membelakangi gue, ngetik di komputer, dan of course dengan nada tidak mau berkompromi* (Beginikah cara melayani masyarakat? Sudah lupakah (majority, bukan semua) orang-orang di kepemerintahan caranya bertatakrama?)
C: Bu, Ibu nanya saya mau berapa halaman, bukan mau e-paspor atau paspor biasa.
E: Ibu, disini lagian ga ada e-paspor 24 halaman, jadi ya pas Ibu jawab 24 sudah pasti paspor biasa. (Kesalahan dia: lupa nanya e-paspor atau bukan, terus main asumsi, dan gamau ngaku salah.)
C: Setau saya ada Bu makanya saya kira Ibu nanyain e-paspor.
E: Tidak ada Bu, e-paspor 24 hal itu hanya ada di Jakarta Selatan.
C: Ya Bu terus ini gimana, tolong lah, kalau mau paspor biasa ngapain saya nunggu 7 jam? Mending saya daftar online.
E: Ya ini udah ga bisa dicancel.
C: *Duduk diem, mikir* Gimana Bu, tapi saya pengennya e-paspor?
E: Ya uda kalo mau Ibu bayar dulu, terus buat lagi yang baru.

Aslinya cerita ini panjang banget, tapi gue persingkat aja ya. Intinya dia lupa nanya ke gue mau e-paspor atau bukan, dan gue juga main beranggapan kalo dia udah tau. Dua-duanya asumsi. Teng, selesai, salah dua-duanya dong? Tapi bedanya antara gue dan dia, dia begitu judes menanggapi masalah gue, dan langsung lempar semua tanggung jawab ke gue, karena I know mungkin dia takut disalahin? Whatever. Sementara gue masih berusaha nanya ada jalan keluar lain ga selain harus bayar dua kali.

Karena gue udah empet dan gamau ini bertele-tele, I was thinking of paying double aja udah. Lalu gue pergi ke kasir untuk bayar, ternyata kasir itu adalah kasir khusus asing jadi gue ga bisa bayar disana. Nah si mba X yang di kasir ini, awalnya ramah, dia bilang, "Coba saya tanyakan ke atasan saya ya," lalu gue curhat lah ke dia dengan menggebu-gebu tentang gimana gue diperlakukan sama si E. Gue bilang minta tolong tanyain ke atasannya, memangnya ga bisa dicancel? Kalo bisa kan gue gamau bayar 2 kali. Eeeeeh si mba X ini langsung berubah 180 derajat jadi angkuh juga, "Ibu, Ibu ga usa marah-marah disini, ini ga ada hubungannya dengan bagian sana." Padahal gue cuma cerita, dan I used a lot of words: tolong ya mba, tolong. Ga lama dia masuk, terus keluar lagi, dia suruh gue ngadep ke E lagi (dan meaning dia ga nanyain ke atasan dia). Lah. Ok I understand now, mereka ga bisa aja terima komplain (meski komplain itu bukan tentang mereka loh). Kita harus mangut-mangut jadi kucing yang lucu dan ramah di depan mereka at all times. Ok sip.

Terus Freddy nemenin gue masuk ke ruangan E, dan disana dia sudah berdiri, menunggu dengan mata melotot. Dia udah bete nanya kenapa gue kesana, padahal disana kasir asing dan ga bisa bayar disana, dan kenapa gue marah-marah ke temennya, to which gue jawab, "Ya saya gatau saya kira bisa bayar di kasir, dan saya ga marah-marah". Percakapan disini alot juga, dan mostly antara Freddy dan dia karena gue udah lemesss. Si E intinya bilang semua pemohon udah tau kalo disini ga ada e-paspor 24 hal, cuma gue yang gatau. Quoting her, "Ibu dan bapak gamau baca, dan gamau cari tau." Nah at this point masalah udah beleber, padahal kan bukan itu intinya? Intinya dia pun miss the part untuk nanya gue mau e-paspor atau bukan? Dia main asumsi sendiri gue maunya paspor biasa. Instead of baik-baik ngomong, dia literally blame everything to me sampe bawa-bawa masalah lain.

Puncak problemnya terjadi afterwards. Setelah itu, gue dan Freddy nanya lagi ke salah satu petugas kanim (kantor imigrasi) apa gue bisa ketemu atasannya (kali ini gue nanya ke mas-mas, astaga ramahnya.... emang cewe ga boleh ngomong ama cewe kali ya, meledak bumi ini bisa-bisa). Mas ini anterin gue ketemu seorang Bapak bernama T di ruangan dia (letaknya di tengah-tengah ruangan si E dan mba X).

Gue ga panjang lebar ngomong sama Pak T ini karena udah males, tapi tetep gue sampaikan betapa ga ramahnya petugas disini dari satpam sampai orang-orang di frontdesk yang ketemu langsung sama pemohon. Beliau bener-bener ramah bukan main, thanking us for the input, katanya kalo bukan dari pemohon, dari siapa mereka bisa dapet masukan membangun?

Lalu gue ngomong intinya mengakui bahwa gue lalai, dan si E itu pun lalai. Lalu ada salah paham soal e-paspor 24 halaman yang berujung ke kita berdua sama-sama asumsi hal yang salah. Nah karena sekarang udah kejadian begini, ada ga jalan keluar buat gue? Masa iya itu aplikasinya ga bisa dicancel dan diganti ke e-paspor? Gue udah nunggu 7 jam dan kalo hasilnya begini kan gue kecewa juga dong.. Kalo bisa gue ga mau pay double, cuma gue bilang ke Pak T kalau memang ga ada jalan lain ya udah gue akan bayar dua kali. Freddy juga cerita tentang gimana E melimpahkan semua kesalahan ke kita dengan bilang kita gamau baca dan cari tau. Padahal di banner di depan kantor ada tulisan e-paspor 24 halaman dengan harga per buku 350.000 (sampe di bawa bannernya sama Freddy ke dalem ruangan coba ya.)

Pak T keluar kantor sebentar, calling siapa gitu gue kurang tau, mungkin atasan directnya E karena beliau bukan di divisi yang sama dengan E, beliau ngurusin foreigner jadi ga bisa langsung negur, katanya sih begitu. Begitu balik Pak T bilang ke gue dan Freddy kalau banner itu memang salah, dan beliau kasih opsi ke gue untuk balik lagi dalam sebulan karena mereka memang ga bisa cancel aplikasinya (dan itu butuh 1 bulan untuk expired dari sistem), dan nanti kalau mau apply lagi, bisa langsung cari dia di ruangan ini, aplikasi e-paspor gue akan langsung didahulukan tanpa ngantri.

Done, selesai! Betapa senengnya gue! 15 menit saja and semuanya beres.

What a great great solution. Ga perlu pake marah, dan gue jadinya ga ngerasa dirugiin banget meski udah antri 7.5 jam, and most of all, I feel like I am appreciated for once. Tapi tentu saja, drama tidak berakhir disana, in fact the biggest drama was just about to happen. Si E masuk dengan angkuhnya dan mulai pembiacaraan ini lagi sama gue di depan Pak T:

E: Jangan marah-marah lagi ya bu. Kalo mau dibantuin, jangan marah-marah.
C: Saya ga marah.
E: Ibu tadi marah-marah?
C: Saya ga marah? Ibu yang marahin saya duluan.
E: Ibu bilang saya marah?
C: Iya dari awal nada ibu lebih meninggi dari saya.
E: Dari semua pemohon hari ini cuma Bapak dan Ibu yang tidak mau mencari tahu dan tidak mau membaca! (Ga bohong ini dia langsung meledak dan pindah topik gitu aja, I guess dia ga puas aja gue ngadu ke Pak T?)
F: *Nunjuk banner* Ini bukannya informasi Bu? Di sini ditulis ada paspor elektronik 24 halaman. Kita tadi lihat informasi itu makanya maunya yang 24 halaman aja.
E: Kan tadi saya sudah bilang kalau e-paspor 24 halaman cuma bisa diproses di Jakarta Selatan.
F: Iya, tapi Ibu kan baru bilang ga bisanya barusan, sedangkan kita baca infonya sebelum ambil nomor. Dan di bawahnya juga tertulis kanimnya sini. Coba Ibu baca keterangan di bawahnya.
E: Iya ini kan, Kantor Imigrasi Kelas 1 Khusus Soekarno Hatta! (Dia beneran bacain, tapi abis itu tetep judes meskipun udah jelas-jelas baca itu banner kantor dia sendiri yang ada tulisan e-paspor 24 halamannya.)
Pak T: *Berdiri dari kursi, nyamperin E* Bu sabar bu, semua tenang dulu.

I swear to God at this point dia udah marah-marah dan bentak-bentak gue dan Freddy di depan Pak T. Nah ini gue bener-bener bingung, meski Pak T bukan direct atasan dia, tapi masa dia boleh sih marah-marah gitu di ruangan orang? Atau mungkin jabatan mereka sama kali ya, sumpah gue udah ga ngerti lagi.

E: Bapak kenapa tidak bertanya? (Maksudnya bertanya lebih lanjut mengenai ada tidaknya e-paspor 24 halaman)
F: Ya ibu kenapa ga nanya? (Ga nanya pemohon mau buat paspor elektronik atau bukan pas wawancara)
E: Saya yang tanya duluan. Ibu tadi bilang di formulir ada tulisan e-paspor, mana? Siapa yang berbohong sekarang? (Pilihan kata-kata dia selalu vulgar dan offensive, seriously, 'berbohong'?)
C: Oke saya minta maaf itu saya salah ingat. Tapi teman Ibu disamping juga nyeletuk kan, "Kami tidak pernah melihat form karena banyak tamu yang salah centang juga, jadi kami selalu tanya lagi secara lisan."

Jelas-jelas salahnya dia adalah ga konfirmasi secara lisan dengan bener, kok ngerembet banget nyecer gue. Anyway ini emang salah gue, karena gue buat e-paspor ini sama cici gue, pada saat E salah input aplikasi gue jadi paspor biasa, cici gue ada bilang, "Bukannya di map kita ada tulisan e-paspor ya?" karena di map dia ada cap e-paspor, jadi gue ngomong gitu juga ke E kalo di amplop harusnya sudah ada pilihan e-paspor. Eh ternyata ga ada, dan tulisan e-paspor di amplop cici gue itu dikasih ketika dia udah wawancara, dia ga ngeh jadi kita berdua salah kira. Tapi pun temen si E di ruangan itu langsung belain E dengan mengatakan bahwa mereka ga pernah peduliin tulisan di map karena orang suka salah tulis juga, padahal there is no tulisan di map at all. Jadi ya memang mereka intinya hobi mendukung secara membabi-buta dan saling melindungi temen aja supaya ga disalahin.

At this point di luar ruangan Pak T udah rame orang ngumpul & nontonin (karena pintunya kebuka dari tadi). Abis itu ada beberapa pembicaraan kecil lagi yang menurut gue udah sangat keluar dari jalur permasalahan, tapi maaf seribu maaf gue lupa exactly apa topiknya.

F: Wah ga bisa ini bicaranya sudah ngawur, saya minta ijin rekam ini. *Lalu keluarin kamera* (Pas si F minta ijin, semua diem aja. Gantian dia udah keluarin kamera semua turned savage!) 
E: *TEREAK-TEREAK* Tidak boleh ada kamera!
W (Petugas cowo, ga tinggi): *Langsung marching forward sama si E memojokkan F sambil tereak-tereak* Matikan! *Langsung mau ambil hp* (Gue ga bohong, pemandangan ini kayak orang lagi kerusuhan, mereka tereak kenceng banget sampe ga jelas lagi ngomong apa, ada semacam bapak mau ditahan atau dilaporkan or something like that gue ga yakin, dan gue sampe cuma bisa ngomong di sebelah E untuk tenang, tapi pun suara gue keredam sama suara mereka sendiri.)
C: Bu, ga usah tereak-tereak, kami bisa dengar. Tadi dia minta ijin ga ada yang nyaut.
F: Tadi kan saya sudah minta ijin. Semua diem aja? *Langsung masukin hp ke kantong*

Mulai this point mereka semua (E dan teman-teman di luar) seemed to be very panas.. Gue lupa si E ngomong apa lagi, pokoknya banyak perdebatan kecil yang alot masih seputar "mereka tiap hari ngelayanin 200 orang tapi cuma gue yang gatau soal e-paspor 24 halaman ga ada di cabang ini lah, gue marah-marah lah, dan gue yang salah dan gamau cari tau lah, apa lah."

Padahal ya, padahal... masalah udah selese loh dengan Pak T kasih gue solusi. Tinggal dia mau nerima aja ga the fact bahwa meskipun gue salah ga konfirmasi ulang, dia pun ada salah? Atau mungkin begini: mungkin dia memang tau dia salah, dan dia takut disalahkan atasannya nanti. Jadi dia blow everything segede ini supaya kelihatannya gue yang salah. Atau dia simply ga suka gue dapet solusi yang lebih baik dari yang dia tawarkan.

C: Ya udah deh Bu, omongan saya mau diadu sama Ibu yang di frontdesk juga pasti saya yang salah.
E: Frontdesk?! *Melotot, tersinggung* Ibu bilang frontdesk?!! (Jah dalem hati gue dia mau cari-cari topik permasalahan baru lagi...)
C: Iya maksud saya orang yang langsung berhadapan dengan pemohon.
E: *Langsung motong bertubi-tubi sembari jalan maju, sampai sumpah gue ga bohong, badan gue kedorong mundur-mundur ke luar kantor Pak T* (Akhirnya percakapan setelah ini bertempat di hallway depan kantor Pak T, tempat dimana teman-teman dia tadi ngumpul untuk mendengarkan) Frontdesk? Oooh frontdesk?? Ibu anggap kami rendahan? Ibu bilang kerjaan kami frontdesk rendahan?!
C: Wah! Ini bener-bener deh! Saya kapan ngomong gitu??
F: Bu! Kita ga ada ngomong gitu ya.
E: *Bertubi-tubi lagi nanya ke gue tanpa jeda, sembari masih berteriak-teriak* Ibu bilang kita rendahan? Pekerjaan kita rendah di mata ibu?! Tolong ibu hargai kita dong! Kami juga butuh dihargai!
C: Saya ga bilang rendahan! Ibu yang jelas-jelas ngomong sendiri.
Z (Petugas berkacamata, aga cepak, tinggi): Saya denger tadi dia ngomong gitu. *Sembari nunjuk ke gue* 

Ok gue ngerti taktik mereka sekarang. Si E mau memprovokasi teman-temannya untuk ikut menyerang gue, and it worked. Si Z berani-beraninya memperparah keadaan dengan bersaksi kalo dia denger gue bilang kerjaan mereka rendahan. Astaga Mas, siapapun nama Anda, kalau mau mendukung teman juga jangan lupa kalau semua perkataan kita itu harus kita pertanggungjawabkan di akhirat nanti. Gila gue speechless sama mereka.

F: *Nanya ke Z* Ngomong apa, coba ulangin?
E: *Nanya ke Freddy* Bapak ini pemohon bukan sih?
F: Bukan.
E: Kalo gitu silahkan keluar!
W & Z: *Tereak-tereak sambil ngusir nunjuk Freddy* Keluar!! Keluar!
F: *Belum sempet bela diri, dengan ragu jalan ke pintu keluar, papasan dengan A yang saat itu tidak pakai seragam biru melainkan baju putih dan celana hitam*
A: *Nyeletuk* Jangan mentang-mentang badan besar jadi kasar.
F: *Balik badan* Siapa yang kasar?
A: Saya bilang keluar!!! *Teriak paling kenceng yang gue denger hari itu, sambil jari nunjuk ke pintu keluar*

And just like that, gue melihat Freddy berjalan unwillingly keluar, meninggalkan gue sendirian dengan perasaannya yang gue tau pasti campur aduk jadi satu.. sementara gue masih berdiri di tengah-tengah mereka, dikelilingi oleh E dan 6-7 petugas lainnya. Mereka semua melingkar, and me, alone, stood in the middle.

Pak T, harapan gue saat itu yang terakhir cuma bisa berdiam di dalam ruangan dia, and I didn't blame him of course. Situasi main hakim sendiri memang udah pecah dari tadi and I think there's nothing he can do for me. Ga bisa gue gambarkan betapa berkecamuknya perasaan gue detik itu... Gue baca ulang post ini 5-6 kali sebelum dipublish, dan setiap kali gue baca bagian Freddy diusir dan diteriakin, hati gue terluka. Sengaja banget mereka mau membuat gue ciut sendirian di dalam sana.. Freddy bukan pemohon, jadi dia ga boleh berada disana? Mereka boleh menghakimi gue di lingkaran itu, tapi gue ga boleh ditemenin Freddy? E boleh berdiri berdampingan dengan teman-teman dia, beramai-ramai nontonin gue dibentak-bentak, ditunjuk-tunjuk, dikeroyok, tapi Freddy ga boleh berada disana untuk at least meluruskan salah paham yang dibuat-buat oleh mereka sendiri? Seharusnya kalau niat E baik, dia akan ajak gue ngomong 4 mata di ruangan lain, bukannya bentak-bentak gue, nuduh, mengeluarkan kata-kata provokasi seperti pegawai rendahan di depan teman-teman dia, seoalah-olah mau mengajak mereka semua untuk "mari tersinggung, dan mari kita beri pelajaran pemohon dan rakyat jelata satu ini." 

Teman-teman petugas kanim Soetta, you guys showed your trueselves kemarin itu. Saya ingat wajah kalian, dan saya tidak akan lupa. Kalian tau siapa kalian. Dan saya menyesal, karena perilaku kalian akan mencoreng image para petugas lainnya yang mungkin tidak bermental sama.

Setelah punggung Freddy menghilang dari pandangan, E langsung mencecar gue lagi dengan topik pilihan dia berikutnya.

E: Ibu tadi marah-marahin temen saya?
C: Saya ga marahin temen ibu?
X: *Muncul dari belakang, orang kasir asing yang tadi* Ibu tadi marah-marahin saya sambil banting-banting tangan di meja! Disini Ibu ga bisa seperti itu, ngomong harus baik-baik!
C: *Langsung menghadap X* Oke Mba, ini urusan antara saya dan Mba ya. Kalo Mba ngerasa saya marah-marah saya minta maaf. Oke? Saya tadi cuma cerita, curhat ke Mba. Saya juga ngomong kan ke Mba minta tolong ditanyakan ke atasan? Saya bicara berapa kali saya minta tolong? Kalo Mba ngerasa tersinggung, sekarang saya minta maaf? Clear?
X: *Diem aja*

Kalo gue cuma curhat tentang orang lain, meski memang menggebu-gebu, dan minta tolong dianggap marah-marah, apa artinya perilaku kalian sekarang ke gue sih? Kalo definisi perilaku gue tadi dianggap menyinggung, gue harus ngerasa apa sekarang dibegiiin kalian semua? Dan si X ini bener-bener niat banget nyirem minyak ke api, ikutan memojokkan gue di depan temen-temen dia lainnya yang gatau apa-apa. Hentakan tangan gue dibilang banting-banting. Komplainan gue terhadap temennya dibilang marah-marah ke dia. Bayangin sodara perempuan atau anak kalian dikeroyok dan diperlakukan kayak gini, rasanya gimana? Bener-bener gue bertanya-tanya, dimana hati nurani kalian ya ampun.. 

E: Ibu ini bertamu ke kantor orang, harus sopan dong, jangan marah-marah.
C: Iya saya tau saya bertamu, saya sopan. Yang dari tadi marah-marah Ibu kan bukan saya?
X: Ya tapi Ibu tetap tidak boleh marah-marah!
C: Saya marah dimananya Mba? Dari tadi disini yang teriak-teriak siapa? Yang nunjuk-nunjuk siapa? Yang dari tadi suaranya paling kenceng itu bukan suara saya.

And that's the only time mereka semua di ruangan itu diam for a second or two.

E: *Pindah topik lagi, mau cari-cari kesalahan gue lagi* Ibu tadi bilang frontdesk selalu salah?
C: *Sambil pegang dada, lelah, cape, nunduk kayak sesek napas* Aduh Ibu saya tidak bilang begitu. Saya bilang pendapat Ibu kalau dibandingkan sama saya, pasti yang salah jadinya saya.
E: Ngga! Ibu bilang frontdesk yang selalu salah!
C: Saya bilang saya yang salah, saya ga pernah ngomong gitu!
E: *Pindah topik lagi* Ini Ibu kenapa sampe bannernya di bawa kesini segala? Ga percaya sama saya??

That time sumpah gue cape dengan ceceran yang ga ada habisnya ini. Intinya mereka mau menindas mental gue, mau menghancurkan kepercayaan diri gue, mau turned me into thinking bahwa they are the untouchable, mereka yang berkuasa, dan ini akibatnya kalo gue berani angkat suara.

C: Sekarang terserah Ibu deh. Saya mau ngomong apa juga Ibu potong, Ibu pindah topik. Ibu mau ga dengerin saya? Sekarang Ibu mau ngomong apa aja saya terima, terserah Ibu, saya cape. Silahkan Ibu mau menyampaikan apa lagi, saya terima.
E: *Diem* Udah itu aja. Ya saya minta maaf, tapi jangan pancing saya. *Sambil julurin tangan*
C: *Jabat tangan dia* Oke saya juga minta maaf, kita ga perlu saling pancing, itu yang benar.

Ga habis pikir gue.. Permasalahan harusnya selesai ketika gue ketemu Pak T. That's it. Atau kalo E ga angkuh, dia harusnya bisa kasih gue opsi nunggu sebulan juga sampai aplikasi yang salah itu expired, but instead dia perpanjang masalah ini for a chance untuk melabrak gue habis-habisan.

Abis itu I made my way out keluar dari kantor mereka. I left with scars, terluka karena gue sadar, pikiran gue yang idealis selama ini bahwa Indonesia bisa berubah menjadi lebih baik, ternyata memang hanya sebatas impian yang fana. Praktik di lapangannya semua berbeda. Paspor lama gue masih ditahan disana, and I am really reluctant to post this karena takut ketemu mereka lagi dan dipersulit. Yes I was afraid and I was shaking inside their office. But more than anything, I was angry. Dan kemarahan itu, kemarahan terhadap ketidakadilan di negara ini adalah alasan utama kenapa gue tetap berdiri diam, menangkis satu-persatu tuduhan dan cercaan mereka sampai mereka puas. Sampai mereka lega dan mau ngelepasin gue keluar.

Hari ini ketika bagun tadi pagi, masih terngiang jelas adegan demi adegan ketika gue dipaksa berdiri sendiri, berdiri di tengah orang-orang yang harusnya mau melayani. Teman-teman para birokrat, kalian butuh rakyat as much as rakyat butuh kalian. Kalian harus menghargai rakyat as much as rakyat harus menghargai kalian. Salah kalo kalian berpikir kalian berada di atas angin dan kami harus menunduk karena kami lebih membutuhkan kalian. Kita semua ini equal, setara. But what goes around comes around, gue yakin one way or another mereka akan dapet balesan setimpal.. Entah dalam bentuk apapun itu.

Gue masih inget jelas badan gue bergetar karena marah, tapi ga satu bentakanpun keluar dari mulut gue, karena gue tau tujuan mereka adalah mau memancing amarah gue. The moment gue beneran marah, gue pasti kalah. Mereka akan turn everything jadi gue yang salah. Gue cuma defensive menangkis tuduhan mereka aja, mereka tetep nyecer gue dengan tuduhan-tuduhan lainnya. Gimana ceritanya kalo gue beneran ikutan marah and be offensive?

Untuk semua petugas di kanim kemarin yang menyaksikan: shame on you all. Shame on you yang berdiam diri tidak melerai, shame on you E dengan segala cara Anda bertutur-kata kemarin, dan shame on bapak-bapak disana yang mengintimidasi Freddy dan bersaksi bohong telah mendengar gue menyebut pekerjaan kalian rendah. Tidak ada satupun dari jobdesk kalian yang membuat kalian rendah, melainkan mental kalian yang tidak mengenal kesantunan dan kerendahan hati. 

Gue termenung seharian kemarin, gatau mau cerita ke siapa untuk melapor. Tulis email ke kanim Soetta; apa akan ada gunanya? Gue cuma bisa cerita disini, dengan segala resiko yang ada, untuk paling ngga berbagi pengalaman pahit ini; supaya memori ini ga cuma hidup dan membekas di dalam benak gue dan Freddy, tapi juga teman-teman sekalian, bahwa terlepas dari siapa yang salah, pernah ada kejadian menyakitkan seperti ini terjadi di negara kita. Gue rasa pada akhirnya sebagai sesama rakyat, we have no one but each other to turn to.

Disclaimer penting: post ini dibuat bukan untuk menjelek-jelekkan nama birokrat di Indonesia, apalagi menuduh semuanya bermental sama. Gue juga tidak in any way mencap jelek kanim Soetta apalagi Kementrian di Indonesia dalam bidang imigrasi; komplain di blog ini ditujukan untuk personil-personil yang terlibat (E, X, W, Z dan A) dan hanya mereka saja.

Gue sincerely meminta maaf kalau kemarin menyinggung salah satu, atau salah dua tiga empat petugas disana. Gue ga sekalipun ngotot kalo gue ga salah kemarin, and what I wanted was really, penjelasan yang baik dan diskusi akan jalan keluar untuk masalah yang gue punya, bukannya langsung dimarah-marahi di counter dan dikeroyok di back office. Gue ga 100% nyesel atas terjadinya kejadian ini.. tapi honestly I do wish gue bayar dobel aja dan ga berusaha nyari atasan mereka. I wish gue bayar aja dua kali and get over it asap tanpa perlu (tidak sengaja) menyinggung mereka lagi ketika nyari solusi lain. Karena andaikan aja begitu, gue ga akan perlu ngalamin pengalaman yang traumatizing ini. Pengalaman yang menghempas jatuh kepercayaan gue terhadap pemerintahan yang sekarang dan Pak Jokowi.

I want to let this go, but since I share the same vision with President Jokowi, about what kind of country I want Indonesia to be.. I can't turn my back on this.

Pak Jokowi, curhatan hati ini pernah saya tulis di blog ini beberapa tahun lalu, dan akan saya tulis disini sekali lagi,

Please know betapa hopelessnya orang-orang macam saya yang ga mau begitu aja dicucuk idungnya sama pihak-pihak ga bertanggung jawab tapi gatau harus ngelapor dan minta tolong kemana. 

Begitu hopelessnya orang-orang macam saya yang mungkin bagi banyak orang termasuk teman-teman dan sodara-sodara terdekat, dianggap naive karena masih berpikir mungkin Bapak memang bisa merubah Jakarta dan Indonesia menjadi tempat yang jauh lebih baik.

Begitu hopelessnya orang-orang macam saya yang mau mengikuti 'sistem' yang Bapak buat, tapi kesulitan mencari teman seperjuangan, dan ketika mencari backingan belum tentu Bapak ada ketika dibutuhkan.

Begitu hopelessnya orang-orang macam saya yang meskipun sulit, tapi memilih untuk tetap percaya.

31 January 2017

Oh my poor Nilam.

Sore tadi tiba-tiba Nilam masuk kamar gue dan dengan medoknya ngomong gini:

N: Non, eh aku mau cerita deh non. Lucu itu aku udah berapa hari duit ku kok ilang, ga brek langsung tapi 1, 2 lembar. Kemarin barusan aku cek lagi eh ilang lagi 100.000! Terus aku bilang ke suster, kata dia duit dia juga suka ilang! Terus sus kemaren-kemaren bilang ke aku, "Nil! Kamu kalo aku lagi mandi jangan iseng ngetok-ngetok!" Ih aku bilang wong aku di bawah, ngapain aku iseng ngetok-ngetok! Aku jadi takut loh non, merinding aku. Kayaknya dikerjain kita. Sus bilang dia kalau ke atas merinding terus. Kemarin bilang lagi ke aku katanya ada yang ketok-ketok dia pas mandi. Aku sih ga nuduh sus ambil uang, dia mah baik aku tau. Kalo jahat kan dari muka ketahuan, aku tau. Ya cuma itu aku merinding non jadi takut di atas. Sus bilang ke aku, "Awas Nil ada genderuwo!" Ih aku takut banget dengernya aku merinding terus. Merindingnya di kaki kiri terus (lol bisa gitu ya).
C&F: ...
C: Suster tau kamu simpen uang dimana?
N: Ngga.
C: Kamu taro dimana?
N: Bawah kasur.
C: ... (Ya kelez itu mah tempat penyimpanan satu dunia..) Mulai besok kamu simpen di saya aja deh. Kan saya tiap hari di rumah, kamu mau ambil tinggal ambil. Ya?
N: O iya non..
C: Pas kamu mandi kamu pernah diketok-ketok?
N: Ngga pernah.
C: Uang kamu udah ilang berapa?
N: 300.000 non! Padahal aku ga pernah keluar rumah, ga pernah pake, cuma beli baju merah itu kemarin 35.000!
F: Kalo kamu ngerasa diganggu, kamu bilang aja, "Jangan ganggu!" Gitu. Saya sering kayak gitu, tapi ga pernah duitnya diambil. Kayak gituan mah ga ambilin duit.
N: Iya aku langsung baca doa.
C: Nilam, dengerin saya. Di Jakarta itu orang aneh-aneh banyak. Yang depannya baik dalemnya jahat juga saya pernah kenal. Kamu tetep harus hati-hati.
N: Ya non..
C: Kamu nurut ya sama saya.
N: Iya iya non! Saya pasti nurut sama non.
C: Kamu kasih uang kamu ke saya, kita catet bareng, dan kamu jangan kasih tau suster kamu titip uang di saya. Diem-diem aja.
N: Ya non..

Abis itu doi keluar kamar gue, and gue sama sang pacar langsung tatapan sambil gue nanya,
"Udah pasti si sus kan tuh yang ngambil?"
"Iya lah" kata sang pacar.

Sigh aduh Nilaaaaaaaaaaaaammmmmm.... Emang dari awal si sus ini rada suka nindas dia. Duh duh duh kesian bingit ini anak polos banget hahaha.

18 January 2017

Beautiful check list.

Wedding dress? - Not yet
Wedding venue? - Not yet
Church? - Not yet
Catering? - Not yet
Decor? - Not yet
Documentation? - Not yet
Mental preparation? - Not yet
Willingness to actually start preparing the damn wedding? - Zero
Honeymoon plane ticket? - FRICKIN DONE!



x'D

16 January 2017

The name is iVonne.


Salam kenal,

iVonne Iskandar.

---

Ps: paid & given by my sis, Cekiang... :') Awh... <3 Thanks for doing that Ce, you're one awesome sister!! :')

---

Pss: selling my old iPhone 5S 32 GB Silver:




Dipakai sejak Dec 2013 (sama cewe jadi dirawat banget kok :p)

- Box beserta isinya semua lengkap
- Batre oke
- Body mulus 95% (ada baret dikit di atas kiri, that's all)
- Buttonnya juga oke
- Charger kaki 3 

Bonus:
- Casing hp 4 pcs
- Anti gores clear
- 25% diskon (all products) dari peekmybook.com :D
- 20% diskon dari rumacoffee.com

Price: IDR 3.100.000 nego tipis!
COD hanya daerah Pluit Jakarta Utara
Contact: 081381759557 (whatsapp only) : >

12 January 2017

Cheesy thing bf says.

Kemarin tanggal 11, adalah one of the busiest day in my life karena banyaknya pesenan custom. Salah satu yang paling sadis adalah custom coloring books buat dikirim ke US kurleb 180++ pcs banyaknya! Karena customer gue butuh cepet (meski kata dia kalo ga nyampe on time juga gapapa dia pasrah) gue jadi kerja seharian supaya bisa ngirim bukunya hari ini (tanggal 12).

Well I am super blessed and thankful karena God gives me a lot of reliable people who are willing to help. Kepada nyokap, sang pacar, dan tidak lupa, Nilam (lol), gue ucapnya deep deep terima kasih!! Malem-malem nyokap yang udah cape masih bantuin, sampe akhirnya pas kerjaan yang berat udah lewat I told her untuk masuk kamar dan tidur. Of course ga lupa gue thanks-in dia sampe 3-4x, and then the sweetest thing happened:

N: *Mau masuk kamar*
F: Makasi ya ie.
N: Iya..
C: *Masih lanjut kerja* (Dalam hati sempet terbersit, ngapain dia yang thank you...?)
F: Aku tadi thank you in nyokap kamu loh. Soalnya sebentar lagi kan kamu jadi punya aku.
C: *UHUK* -> keselek cheese yang keluar dari mulut sang pacar.

Hahaha awwwwhhh.. :') I feel so loved tonight.

Abis itu I told him:
C: Haha gila kayaknya aku ga pernah ngomong hal cheesy kayak gitu ya ke kamu?
F: Iya ga pernah.

Hahaha x) gue cuma bisa cheesy lewat blog & caption ig but never in real life >.< but anyway, thanks for the love tonight guys <3 especially to my mom & bf: thanks for always being there for me. Thank you.

Page views.